Posts Tagged 'Sejarah'

Gresik Kota Tua

Tak butuh banyak alasan untuk sekedar “suka”, ya, saya suka melihat ini, bisa jadi ini sebuah memorabilia yang berlebihan,  karena saya membayangkan Gresik sebagai kota tua, Gresik sebagai kota lama yang banyak tercatat dalam bertumpuk-tumpuk lembar sejarah tak melupakan peninggalan yang bisa dinikmati hingga masa kekinian, tapi sayang, ini bukan kota lama Gresik, ini sebuah kota lama tepi pantai di Algorta, Spanyol.

Nampaknya saya berada di tengah kawasan kota lama Gresik, di gang-gang sempit kawasan kampung Arab, atau daerah diseputaran jalan Setia Budi, atau tengah menyusuri jalan Basuki Rachmat Gresik sampai Jalan Nyi Ageng Arem Arem. Itu terjadi hanya sekarang, dan dikemudian hari, saya hanya bisa menikmatinya dengan cara yang ironi dan tragis, hanya dengan memandangi sebuah potret mati kawasan kota tua, jauh dibenua lain, potret-potret mereka yang mampu mempertahankan bangunan tua sebagai cagar budaya tanpa ketertinggalan di tengah modernitas.

Apa kabar perda cagar budaya Gresik?, apa kabar pemerhati budaya Gresik?, apakah ia hanya proses hearing dan akhirnya mandeg?,  apakah hanya dengan cara memindahkan dari meja birokrasi yang satu ke meja birokrasi yang lain kita mewariskannya?.

Advertisements

Tambak 1926

Alkisah, konon katanya, inilah potret tambak di Gresik, sebelum atau ketika 1926, entah darimana raksasa ensiklopedia dunia itu mendapatkan gambar tersebut, jangan-jangan mereka salah ambil gambar, tapi jika benar, bolehkah saya tahu dimana sesungguhnya lokasi dari gambar ini.

Tambak ditahun 1926 barangkali akan mudah ditemui, jadi apa tepatnya lokasi gambar itu sekarang ini, bangunan kokoh berpagar tinggi, atau bangunan dengan cerobong berasap hitam dengan penjagaan ketat satpam didepan pintu masuknya.

Mengamati lamat-lamat gambar diatas serasa saya sudah pergi rantau ratusan tahun lamanya, seperti kata orang-orang, pulang kampung dari tanah rantau pada akhirnya hanyalah pulang kembali pada kenangan.

Tiga Tahun Sudah

Tentu teman-teman saya di nggersik.com itu sepakat, dari warung kopi pojok itulah semua berawal-mula, warung kopi pojok kota kecil pinggiran, dan begitulah pertemuan yang tak pernah bisa ditentukan, dari ngeblog, email, komentar-komentar singkat, dan chatting serta janji-janji molor akhirnya kita dipertemukan.

Terasa semua berangkat dari sebuah kebetulan, ngobrol, ngopi, ngudut, corat-coret sederhana, sedikit idealisme dan keyakinan, lahirlah nggersik[dot]com sebagai pilihan, dan seperti seorang anak dengan mainan barunya, terlintas menjadikan nama itu sebagai agregator sederhana, merapatkan barisan dengan rapat-rapat larut malam, launching gremeng-gremeng, dan seperti tak ingin kehilangan momentum, tanpa komando dan semua mufakat, 19 mei 2008 tepat sehari sebelum kebangkitan diperingati secara nasional, kita mengabadikan hari itu sebagai hari kebangkitan blogger nggersik.

Entah dari mana sebuah permusyawaratan itu dianggap sebagai sebuah kebangkitan, barangkali karena keyakinan dan sedikit idealisme kala itu kita tak pernah menganggap ngopi dan ngobrol yang melahirkan kebangkitan bersama itu sebagai sesuatu yang ajaib, tapi selanjutnya kita musti menyadari, yang tak kita punyai adalah bagaimana merawat idealisme dan keyakinan itu sendiri.
Continue reading ‘Tiga Tahun Sudah’

Dari Semanggi

Karena gambar akan bercerita banyak hal

Saya mengenalnya secara kebetulan, disebuah jalan, yang pernah dianggap sebagai jalan lintas yang cepat, sebuah jalan yang samar terdengar pernah diperebutkan, karena sebuah objek yang sama kami dipertemukan, ya, seorang penjual semanggi tua di pinggir trotoar jalan.

Asli Gresik yang sekarang entah bagaimana kabarnya, blognya yang banyak berisi hasil jepretan tentang Gresik itu lama ditinggalkan, karena tuntutan pekerjaan sebagai seorang pewarta barangkali telah membawanya ke tempat yang jauh, dan kesibukan telah membuatnya lama tak memperbarui blog, ia hanya meninggalkan sederet hasil rekam jejak tentang Gresik melalui sebuah lensa dengan sedikit kata, dan akhirnya saya merasa, apa yang ia tinggalkan disana menceritakan banyak hal tentang sebuah kota yang pernah suatu ketika dalam sejarah mengalami masa kejayaannya dan sekarang berada dalam masa terburuknya.

Bagaimana merekam keadaan sosial Gresik lewat beberapa ukuran lensa barangkali bukan tanggung-jawab yang harus ia selesaikan, disini, dengan mengutip sebagian atau keseluruhan, saya ingin mengabadikan dengan cara saya tanpa harus kehilangan gambar dari lensa beresolusi tajam yang pernah ia pegang.

ps : gambar dari tovan photo

Kota Gresik 1896-1916

Barangkali saya berharap terlalu banyak terhadap sebuah buku, dan saya lupa petatah-petitih itu, barangsiapa berharap terlalu banyak ia harus siap kecewa.

Saya bukan meresensi sebuah buku, terlepas ini sebuah resensi atau bukan, saya hanya membatasi diri, bahwa ini pendapat saya pribadi tentang buku “Kota Gresik 1896-1916” yang ditulis Oemar Zainuddin dengan sedikit testimoni dibelakang buku yang menegaskan buku ini akan banyak berbicara tentang budaya, seni dan Gresik sebagai pusat perdagangan di era itu.

Alih-alih bicara tentang sejarah dan latar belakang Gresik yang medetail (seperti kata pengantar pada halaman vii), saya merasa, buku ini hanya ingin menegaskan eksistensi H. Oemar dan keluarga, apalagi, bukan sebuah kebetulan, penulis adalah masih bagian dan secara tegas menyatakan, penulis adalah generasi ketiga dari H.Oemar, nama yang berulang kali di reproduksi dibanyak halaman di buku ini, H.Oemar dan segala usaha perdagangannya dengan melesakkannya sebagai tolak ukur sukesnya Gresik sebagai pusat perdagangan kala itu.

Continue reading ‘Kota Gresik 1896-1916’

Nostalgia

Meski bernostalgia ke masa lalu adalah laku paradoks, tapi ia bukanlah kutukan, sejenak kembali menebalkan tipisnya ingatan. Ini tentang sejengkal ingatan masa lalu tentang kota Gresik sekarang dan Grissee yang lewat tapi tak sungguh-sungguh terpisahkan.

Sebenarnya ini hanya lanjutan sekelebatan gambar-gambar lama yang saya ambil tanpa seijin yang punya, beruntung saya jika kelak yang punya menegur(dan mudah-mudahan hanya teguran), dan dengan tidak keberatan saya menghapus gambar-gambar itu karena memang bukan hak milik saya, tapi Grissee dalam masa lalu itu bukanlah milik mereka, ia tetap menjadi milik saya dan mereka(generasi yang akan datang), penghuni kota ini.

Alun-alun Kota Gresik

Continue reading ‘Nostalgia’

Station te Grissee

Karena kereta api adalah transportasi yang paling membumi dan terjangkau rakyat.

Sejenak saja,  membayangkan kembali ke Grissee kala itu, ditahun 1924, seperti yang tertera dalam arsip yang yang saya temukan di media daring Belanda. Saya tahu benar dimana stasiun itu berada, sekilas lewat dalam sekelebatan, tapi saya bisa memastikan, keadaan di tahun 1924 itu jauh lebih sedap dipandang walau sekilas dalam kenangan.

Continue reading ‘Station te Grissee’


Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Kunjungan

  • 140,059 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</