Archive for the 'Sosial' Category

Pantai Delegan, Wisata Gresik Dahulu Dan Kini

Ini untuk sampeyan semua, yang dari sekian banyak komentar mempunyai pendapat berbeda mengenai wisata Gresik pantai Delegan, pertama kali saya menuliskannya di blog ini ber-almanak 9 Januari 2008, dan yang saya coba tampilkan untuk posting kali ini mengenai pantai Delegan Wisata Gresik adalah photo dan gambar-gambar terakhir pantai Delegan yang salah dua-nya saya ambil dari sini, tentu saja gambar dan photo terbaru dibandingkan dengan photo dan gambar yang saya ambil diseputaran 2008. Keseluruhan gambar diposting tulisan ini adalah hak sepenuhnya Penikmat Perjalanan & Wisata Indonesia itu, tanpa saya mohon ijin terlebih dahulu, dan semoga saja dijinkan.

Jika gambar dan photo menurut keyakinan kebanyakan orang akan jauh lebih bisa bicara daripada kata-kata, maka, sampeyan bisa dengan lebih teliti mengunjungi The Aroengbinang Travelog itu untuk setidaknya menilai sejauh mana pengembangan potensi wisata daerah oleh pemerintah Gresik selama 4(empat) tahun semenjak 2008 sampai dengan 2012. Selamat mencatat dan menikmati setiap perjalanan wisata sampeyan.

Advertisements

Gresik Kota Tua

Tak butuh banyak alasan untuk sekedar “suka”, ya, saya suka melihat ini, bisa jadi ini sebuah memorabilia yang berlebihan,  karena saya membayangkan Gresik sebagai kota tua, Gresik sebagai kota lama yang banyak tercatat dalam bertumpuk-tumpuk lembar sejarah tak melupakan peninggalan yang bisa dinikmati hingga masa kekinian, tapi sayang, ini bukan kota lama Gresik, ini sebuah kota lama tepi pantai di Algorta, Spanyol.

Nampaknya saya berada di tengah kawasan kota lama Gresik, di gang-gang sempit kawasan kampung Arab, atau daerah diseputaran jalan Setia Budi, atau tengah menyusuri jalan Basuki Rachmat Gresik sampai Jalan Nyi Ageng Arem Arem. Itu terjadi hanya sekarang, dan dikemudian hari, saya hanya bisa menikmatinya dengan cara yang ironi dan tragis, hanya dengan memandangi sebuah potret mati kawasan kota tua, jauh dibenua lain, potret-potret mereka yang mampu mempertahankan bangunan tua sebagai cagar budaya tanpa ketertinggalan di tengah modernitas.

Apa kabar perda cagar budaya Gresik?, apa kabar pemerhati budaya Gresik?, apakah ia hanya proses hearing dan akhirnya mandeg?,  apakah hanya dengan cara memindahkan dari meja birokrasi yang satu ke meja birokrasi yang lain kita mewariskannya?.

Masa Tua

Bagi sampeyan yang memilih Gresik sebagai kota pilihan terakhir untuk mengistirahatkan jiwa yang lelah dan tubuh yang semakin keropos digerus usia, ada baiknya sampeyan melakukan negosiasi ulang dengan niatan sampeyan tersebut. Alih-alih mendapat ketenangan, sampeyan malah jauh dibikin ribet dengan segala ketidakberdayaan di hari tua.

Jika Gresik sebagai kawasan industri itu tidak mengenal hari libur sebagai jeda dan sedikit sekali upaya menghijaukan kawasan lain, adakah sebuah jaminan dari langit bahwa udara yang kita masukkan paru-paru dengan susah payah itu adalah udara bersih yang sangat dibutuhkan tubuh diusia senja, ini belum persoalan air bersih yang secara nyata-nyata dibutuhkan, tapi tak jelas mana ujung mana pangkal, belum lagi soal harga-harga makanan pokok yang mahal, yang konon katanya jauh lebih mahal dari Surabaya, padahal Gresik hanyalah sebagai kota penyangga.

Bencana adalah soal lain selain persoalan yang saya sebutkan diatas, seperti banjir tahunan, yang dari rezim pendahulu sampai penguasa berikutnya, penyelesainnya hanya dengan saling menyalahkan dan bicara di koran, maka sampeyan layak memperhitungkan letak geografis wilayah yang akan sampeyan tinggali di hari tua itu, bebas banjir atau langganan banjir.

Terakhir, yang tak kalah jauh lebih pentingnya adalah sarana kesehatan. Untuk uang satu ini saya percaya, bahwa sampeyan sudah memperhitungkan dengan baik dan benar, dan tentu saja tidak mengabaikan hal lain yang sudah sangat sedikit saya sebut diatas.

Apa yang sampaikan ini bukanlah upaya untuk menghalang-halangi niat sampeyan yang sudah dipikirkan bertahun-tahun dengan menimbang segala hal baik dan buruk, ini hanya sekedar upaya mengingatkan, bagaimana menjadikan Gresik tak hanya sebagai kota Industri, tapi sebagai sebuah kota yang layak huni.

Tambak 1926

Alkisah, konon katanya, inilah potret tambak di Gresik, sebelum atau ketika 1926, entah darimana raksasa ensiklopedia dunia itu mendapatkan gambar tersebut, jangan-jangan mereka salah ambil gambar, tapi jika benar, bolehkah saya tahu dimana sesungguhnya lokasi dari gambar ini.

Tambak ditahun 1926 barangkali akan mudah ditemui, jadi apa tepatnya lokasi gambar itu sekarang ini, bangunan kokoh berpagar tinggi, atau bangunan dengan cerobong berasap hitam dengan penjagaan ketat satpam didepan pintu masuknya.

Mengamati lamat-lamat gambar diatas serasa saya sudah pergi rantau ratusan tahun lamanya, seperti kata orang-orang, pulang kampung dari tanah rantau pada akhirnya hanyalah pulang kembali pada kenangan.

Sekedar Ucapan

Ini hal biasa, ini hal yang tak penting, ini sekedar pemerah blog, lagipula ini sudah telat, dan teman saya pernah bilang, “Saya tak biasa mengucapkan selamat tahun baru mas, apalagi dengan pakai acara berjabat tangan dan bersalam-salaman, koyok riyoyo wae mas, paling banter saya cuman melekan semaleman dengan tetangga di gang-gang kampung, tak terkecuali tahun baru kali ini, meski hujan tak reda sampai pagi, jadinya kemarin hanya di pos kamling saja”. Demikian kata teman saya itu, yang hari ini sengaja saya mampir kerumahnya sekedar bertanya kabar dan juga karena sebuah kebetulan, saya ada sedikit keperluan didaerah dimana ia tinggal.

Apa yang dibilang teman saya itu juga bukan hal yang penting, tak ada sangkut-pautnya dengan sampeyan, dan ini singkat saja, biar saya agak sedikit modern dan mengikuti jaman meskipun terseok-seok, saya ingin mengucapkan “Selamat Tahun Baru 2012” buat sampeyan semua, sesuatu yang ringan untuk saya ucapkan, dan untuk beberapa alasan, saya juga sepakat seperti yang sudah dibilang teman saya tadi, agak kaku, karena saya juga tidak biasa mengucapkan selamat tahun baru dengan saling berjabatan tangan apalagi dengan berpelukan, semoga sekedar ucapan ringan tapi cukup mewakili. Sekali lagi, Selamat.

Sajak Kota

Jika sebuah kota butuh puisi untuk mengukuhkannya dalam serentetan kata melankolia, ijinkan saya mengutip sebuah puisi Aan Mansyur yang berjudul “Kota: Anak desa yang kurang ajar”, yang ia tulis diseputar 2007.

Saya memilih sajak Aan Manysur itu bukan tanpa alasan, saya rasa, ia sajak yang paling tepat untuk memberikan gambaran tentang kota-kota besar, kemiripan keserakahan sebuah kota besar menjadikan Gresik tak ubahnya sama kejam dengan kota-kota besar lainnya di negeri ini, ketidak-pedulian petinggi sebuah kota, industri yang menggila, dan masyarakat heteregon yang acuh terhadap masa depan kotanya sendiri. Akankah Gresik menjadi anak desa yang kurang ajar?.

KOTA: ANAK DESA YANG KURANG AJAR
2007

Kota adalah anak desa yang amat kurang ajar.
Tidak satu pun petuah yang dia mau dengar.
Dia kira bisa dewasa dengan membakar lembar
buku-buku tua dan hanya membaca surat kabar.

Kota menikah dengan orang asing lalu lahir
anak-anak yang setengah mati pandir dan kikir.
Dia mendirikan banyak bangunan tanpa pikir,
mall, hotel, bioskop, restoran dan lahan parkir.

Kota mengajak orangtuanya datang jadi pembantu
dengan mengirimkan hiburan-hiburan ke kampung
televisi tak pakai antena atau sinyal telepon genggam.
Katanya, semua itu sekadar bayaran atas hutangnya.

Kota menyuruh anak-anaknya pergi ke kampung
membangun villa dan membuka usaha tambang.
Orang-orang asing datang berwisata dan pulang
membawa bertruk-truk emas, minyak dan uang.

Kota sedang berpesta pora makan-minum sepuasnya
hingga mabuk di atas perut orangtuanya yang sabar.
Hanya begitu caranya menghibur diri sebab dia sadar
semakin hari semakin besar dan subur rasa sesalnya.

Continue reading ‘Sajak Kota’

Gresik Dan Pengertian Kota

Jika kata “Kota’ menurut wikipedia  adalah merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri. Maka, pertanyaan sederhana-nya adalah, layakkah Gresik itu disebut sebagai sebuah kota?.

Pertanyaan saya, tentu saja, saya tujukan kepada sampeyan, yang iseng atau secara tidak sengaja kesasar di blog ini, sampeyan boleh menjawab dan boleh juga tidak dengan cara langsung menutup blog ini, saya tak tahu, karenanya saya bertanya, tapi jika boleh saya jujur, rasa-rasanya Gresik belum bisa disebut sebagai kota jika saya membatasi semua jawaban sesuai dengan pengertian kota seperti difinisi kota menurut wikipedia diatas.

Sekali lagi, saya memberikan ruang seluas-luasnya untuk sebuah perbedaan, bagaimana menurut sampeyan?.


Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Kunjungan

  • 140,059 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</