Archive for October, 2009

Angka

Sedikit saja saya mengingatnya, bisa jadi saya lupa, apa saya sudah mengingatnya dengan baik dan benar. bukan lantaran deretan angka itu mudah untuk dibuka kembali lantaran ia di arsip dengan baik, atau setidaknya dibuat menarik, sehingga membuat setiap orang yang melintas di deretan rak buku perpustakaan daerah itu melirik, meniup debu yang menumpuk diatasnya, membukanya secara cepat, dan dengan sedikit kekesalan akan mengembalikannya dengan melempar acak-acakan.

Diantara tumpukan itu, di buku hardcover yang melengkung dimana-mana itu, saya menemukan sebuah deretan kata dan angka, begini bunyi tepatnya, “Pertumbuhan ekonomi Gresik sebelum krisis ekonomi antara 1997 dan 1998 itu adalah 13%”, 13 bukanlah angka keramat ketika ia berada dalam deretan perhitungan statistik yang membuat pusing kepala, terlebih ia dikaitkan dengan sebuah parameter pertumbuhan ekonomi sebuah daerah.

Mari kita lupakan 13 persen itu, dan kita bicara setelahnya, dalam sebuah profile Gresik yang lain saya juga menemukan, bahwa pertumbuhan ekonomi kota ini hanya 3% sampai 4% saja.

Saya yang awam soal hitung-hitungan pertumbuhan ekonomi langsung menilai dengan ragu-ragu, apakah berarti selama ini pertumbuhan ekonomi daerah ini tidak lebih baik dari masa krisis kemarin?, ah embuhlah.

Iklan Diri dan Ketulusan

Apa yang menarik dari sederet peristiwa akhir-akhir ini?, apa yang menarik dari sederet pandang di perempatan dan setiap pojokan publik yang dianggap ramai akhir-akhir ini?. Tak perlu jeli dan dahi mengkerut untuk mencari-cari dan mengamatinya.

Iklan diri yang cukup besar, ekspresi datar dengan keramahan yang dipaksakan. Momen, begitu kata teman, tak perlu ditunggu, tapi momen perlu diciptakan, yang terjadi adalah ucapan dari kartu pos jaman jadul berubah jadi potret diri super gede di setiap tikungan dan pojokan jalan dengan ucapan dan momen lain yang dekat-dekatkan, beberapa buah iklan diri yang mencoba-coba muncul dari sela-sela kerumunan, diantara iklan sabun mandi dan jepitan iklan diskon besar-besaran dari sebuah mall perbelanjaan.

Ketulusan dan keikhlasan tentu adalah soal lain, ia hanya dalih dengan sederet pembenaran, dan yang benar itu adalah sejenis pengumuman pencalonan diri yang nampak di permukaan. ngêtok-ngêtoki, kebelet, atau mungkin ngidam seru kata orang nggersik. Dan akhirnya, rasa “malu” dan “sungkan”, begitu ujaran santun orang jawa telah di pinggirkan.

Dan jika mereka lupa, ini sekedar sepenggal kalimat pengingat, bukankah awal pencipataan langit dan bumi, gunung-gunung dan pepohonan serta hewan itu adalah enggan mengemban amanat?. Mungkin kita memang harus memaklumi, manusia memang suka merebut-rebut amanat, ia mengajukan diri, bahwa dirinyalah yang mampu mengemban amanat itu.

wallahu’alamu bishowab.


Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Kunjungan

  • 138,963 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</