Archive for June, 2007

Pijat Bapak Aja!!

“Lha berapa gajimu, cung!” kata Bapak saya waktu itu.
(cung, berasal dari kata kacung dalam bahasa jawa yang berarti nak!, atau anak)

“cuman UMR pak!” jawab saya.

“lha UMR itu berapa?” ternyata jawaban saya bikin Bapak semakin penasaran saja.

“Ya… 450 ribu Pak” jawab saya sambil nyruput wedang kopi Bapak.

“Hah 450 ribu? pulang pergi Gresik Surabaya?” tak lihat wajah Bapak semakin serius.

“Ah mending besok berhenti kerja aja, pijat Bapak tiap sore sepulang Bapak kerja, tak gaji 750 ribu tiap bulan” kata Bapak dengan lebih serius dan wajah yang menahan emosi, karena ndak terima anaknya yang sarjana, habis sawah 3 petak dan sapi 2 ekor cuman digaji murah.

Saya jadi mikir, kalo kerja untuk mencukupi kebutuhan hidup, bukankah 750 ribu tawaran Bapak lebih baik daripada UMR yang waktu itu 450 ribu? apa nggak lebih baik tak campakkan saja embel-embel sarjana?.

Kalo ada yang menawarkan jadi security melek malam dengan gaji 10 juta sebulan apa nggak lebih baik ditinggalkan saja gaji staff yang cuman 5 juta sebulan?.

 

Ps : ini semua hanya perumpaan, Gimana ya… gaji gede jadi security tapi dari sarjana IT, daripada gaji kecil tapi job keren, jadi staff IT.

“Islam, Nggak Perlu Diperjuangkan”

Ya agaknya saya sependapat, entah untuk nanti! toh saya juga butuh pencerahan dan berbagi dengan anda, termasuk dengan judul posting ini.

Kenapa ndak perlu diperjuangkan?, bagi saya pribadi sepertinya terlalu muluk. Yang perlu diperjuangkan itu orang-orangnya, orang-orang yang mengaku dirinya Islam, bukan Islamnya, Islam itu nggak perlu diperjuangkan lagi, bukankah Islam sudah sempurna? nggak perlu juga saya melengkapi pernyataan terakhir ini dengan beberapa skrinsut hadist.

Banyak sudah kejadian dan pelajaran yang seharusnya membuat kita sadar, bukan Islam yang nggak bener tapi oknum dan manusia yang mengaku Islam. Apalagi yang pegang veto pokoknya™

Anda sudah dapat clue-nya kan? jadi tak penting buat saya untuk memperpanjang posting ini. Nah gimana dengan anda sendiri?

Anugerah Bintang Akhlak Mulia

Pertama, sebagai manusia bermoral dan biar dianggap normal saya mengucapkan selamat atas anugerah ini.

Yang jelas bagi saya pribadi, apakah penilaian-penilaian semacam ini bisa dianggap valid atau tidak, terlepas dari tujuannya yang bertitik tolak dari keterpurukan kondisi moral bangsa sekarang ini.

Bagaimana kriteria penilaian itu, dan bagaimana juga dengan penilaian secara kuisioner melalui jaringan GMP-AM, bukankah lebih bisa dipertanggung jawabkan lagi kalo rakyat yang dipimpinnya yang memberikan penilaian?

Gimana, kalo sekali-sekali ada anugerah Bintang Akhlak Bejat? tujuannya, biar intropeksi diri saja, gimana?

 

ps : obrolan waroeng kopi ini lebih panjang dari tulisan ini, tapi tetep aja nggak penting.

 


Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Kunjungan

  • 138,963 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</