Archive for September, 2012

PNS

Jika ia didefinisi sebagai pegawai negara, sudah sepatutnya ia tunduk dan melayani pemilik negara, yakni rakyat, sebaliknya, jika ia adalah pegawai pemerintah, mereka hanyalah abdi bagi atasannya

Saya tak hendak menyoal etos kerja, karena jika saya menyodorkan pilihan kata seperti berikut ini, santai, gila hormat, upeti, uang lelah dan seterusnya, saya yakin, saya akan memiliki teman jauh lebih banyak dibanding dengan audiens yang memilih kata bernada positive dan penuh antusiasme, itu jika audiensnya diluar mereka dan mempunyai sedikit keberanian untuk sejenak memilih dengan jujur.

Kenapa perilaku sebagian pegawai itu sudah menjadi sedemikian bobroknya?, anda tak perlu susah mencari jawaban atas pertanyaan seperti itu, karena jawabannya sudah sedemikian mengakrabi dan dekat di telinga kita semua, sedang proses, reformasi birokrasi sedan berjalan, tak semudah membalikkan telapak tangan, dan beberapa gudang kalimat lain yang kesemuanya akan bernada sama jika niat ditabuh.

Terakhir dalam postingan kali ini, saya tak hendak sepenuhnya menyematkan keburukan itu pada mereka, meskipun mengenai hal ini sedang saya usahakan dalam tulisan yang lain, saya dan sampeyan, ya, anda, masyarakat kita, bukankah ikut andil terciptanya budaya seperti itu?, meskipun teman saya yang duduk disebelah ini akan selalu membela masyarakat dengan berkata, “diberi, yang menurut mereka seikhlasnya saja masih enggan melayani dengan baik, apalagi jika ikhlas itu dalam pengertian mereka terlalu rendah untuk uang lelah, bisa sampeyan bayangkan mas, jika sama sekali enggak!”.

Saya tak hendak membayangkan seperti apa layanan pegawai pemerintah yang seharusnya hanya sebagai regulator negara itu, karena pengingat akan buruknya layanan abdi negara itu datang lebih dulu daripada tulisan ini sebagai sebuah bentuk peringatan, seperti Louis Kraar dalam Indonesia on the move, pengamat ekonomi asia selatan itu mengatakan, bahwa Indonesia tinggal menunggu waktu menjadi negara halaman belakang (back yard) bagi negara-negara Asia lainnya jika tidak segera diperbaiki budaya lembek bekerja. Senada dengan Lous Kraar, ada telaah Gunnar Myrdal, dan Gresik masih menjadi bagian dari Indonesia bukan?.

Catatan : Tulisan ini terinspirasi dari kabar jauh blokir pertemanan.

Saujana

Respice, adspice, prospice!

Sepertinya ini mendekati kebenaran, saya masih menggunakan kata “sepertinya”, karena menjaga harapan untuk tetap selalu ada adalah sebuah semangat.

Saya tak hendak menulis panjang tentang kekeringan dan kekurangan air bersih di kota ini, karena ini adalah persoalan langganan, dan penyelesaian persoalannya hanya dengan retorika dan tindakan nyata droping air bersih sementara, tapi solusi ini lebih dari sementara, tapi sudah menjadi cara jamak yang rutin dan menyetahun. Musim kemarau dengan dropping air bersih dan musim penghujan yang identik banjir dengan nasi bungkus dan sembako. (untuk detail, silahkan baca ulang arsip koran-koran lokal).

Sejarah kepemimpinan daerah yang buruk memang akan terus berulang, seperti kata teman saya, sekeras apapun rakyat mengkritik dan mengingatkan, akan sulit untuk didengar oleh mereka, karena pemerintahan yang buruk hanya punya telinga untuk diri mereka sendiri, ia tak mampu mendengar yang liyan.

Apa sebenarnya yang menjadi saujana dari bergantinya kepemimpinan daerah jika ia tak mempu mencermati dan belajar dari kesalahan pemimpin sebelumnya, tak ada respice dan prospice. Di penghujung tulisan singkat ini saya hendak mengutip pengingat terakhir dari Augustus Caesar, Acta est fabula, plaudite! (Sandiwara telah usai, bertepuktanganlah!).

Orang-orang Menjengkelkan

“Setiap perjuangan ternyata selalu melahirkan sejumlah pengkhianat”

– Taufik Ismail

Saya mencoba memulai dengan cara sederhana, Gresik, sebagai sebuah kota buffer, kecil dan pinggiran  tak mungkin dapat ditemukan dalam satu halaman penuh surat kabar harian dengan muatan berita yang variatif, untuk itulah beberapa hari terakhir muatan berita online sebagai satu-satunya media yang bisa saya akses dengan cepat memuat berita pelemparan ke gedung DPRD dari mulai tomat sampai telur busuk. Saya mencoba menahan diri untuk tidak menuliskannya ulang, karena saya pikir hal ini akan percuma dan sia-sia, sebisa mungkin saya ingin tak hanya sekedar menuliskan ulang disini, tapi lebih ingin melempar sesuatu yang mungkin jauh lebih busuk dari sekedar telur, apapun itu, tak hanya ke gedung, jika memungkinkan.

Saya juga tak hendak menganalisa bagaimana wakil rakyat itu bisa bermetamorfosis menjadi “orang-orang yang menjengkelkan” dalam sejarah republik, terlebih dalam konteks demokrasi dan reformasi. Tapi sepertinya saya tak punya pilihan kata lain selain mengutip Taufik Ismail dengan menyebutnya sebagai pengkhianat. Dan saya tak perlu bertanya seperti apa rasanya dikhianati, tapi yang mengherankan saya, kita tak pernah jera untuk selalu dikhianati, di setiap pesta demokrasi, di setiap bilik yang sempit lagi menghimpit, dengan alasan ekonomi kita menghidupkan pengkhianat-pengkhianat baru.


Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Kunjungan

  • 138,963 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</