Posts Tagged 'Budaya'

Gresik Kota Tua

Tak butuh banyak alasan untuk sekedar “suka”, ya, saya suka melihat ini, bisa jadi ini sebuah memorabilia yang berlebihan,  karena saya membayangkan Gresik sebagai kota tua, Gresik sebagai kota lama yang banyak tercatat dalam bertumpuk-tumpuk lembar sejarah tak melupakan peninggalan yang bisa dinikmati hingga masa kekinian, tapi sayang, ini bukan kota lama Gresik, ini sebuah kota lama tepi pantai di Algorta, Spanyol.

Nampaknya saya berada di tengah kawasan kota lama Gresik, di gang-gang sempit kawasan kampung Arab, atau daerah diseputaran jalan Setia Budi, atau tengah menyusuri jalan Basuki Rachmat Gresik sampai Jalan Nyi Ageng Arem Arem. Itu terjadi hanya sekarang, dan dikemudian hari, saya hanya bisa menikmatinya dengan cara yang ironi dan tragis, hanya dengan memandangi sebuah potret mati kawasan kota tua, jauh dibenua lain, potret-potret mereka yang mampu mempertahankan bangunan tua sebagai cagar budaya tanpa ketertinggalan di tengah modernitas.

Apa kabar perda cagar budaya Gresik?, apa kabar pemerhati budaya Gresik?, apakah ia hanya proses hearing dan akhirnya mandeg?,  apakah hanya dengan cara memindahkan dari meja birokrasi yang satu ke meja birokrasi yang lain kita mewariskannya?.

Advertisement

Gresik Regional Kaskuser

“Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku ubah dunia”, demikian Ir. Soekarno pernah mengatakan dengan penuh semangat dan harapan

Seharian kemarin saya memang berniat bernostalgia dengan kaskus, forum portal yang tersohor dengan tag “The Largest Indonesian Community” itu, sejauh ingatan, di forum itulah saya pertama meregisterkan id saya, forum lokal yang sedemikian sangat ramai, tak hanya saat itu, dan sepertinya sampai saat ini, sebagai orang yang pertama kali masuk di forum, saya hanya sebatas membaca posting dan komentar beberapa member yang lain, terutama di forum buku, dan terutama lagi dengan thread download e-book beberapa novel yang mungkin saja diupload secara illegal dengan semangat berbagi.

Seiring waktu, perlahan saya semakin jarang mengunjungi kaskus, terkecuali ada kasus dengan buku yang menghebohkan, seperti kasus buku Gurita Cikeas dan beberapa kasus pelarangan yang berkaitan dengan buku-buku yang secara nasional cukup menghebohkan, saya mengunjungi kaskus dengan membawa dua pilihan, pertama, download saja ketika ada member yang merujuk ke salah satu link untuk download, dan buku tersebut tiba-tiba saja sulit didapatkan dari toko-toko buku, atau kedua, beli dengan membaca review terlebih dahulu dan yakin bahwa buku itu memang layak untuk dimiliki.

Kunjungan saya ke kaskus kemarin adalah kunjungan yang berbeda, saya mendapati Kaskus regional Gresik yang memang cukup berwarna, dan tidaklah mengherankan, karena dengan klak-klik singkat, saya tahu, dibalik forum kaskus regional Gresik itu ternyata di pandegani oleh beberapa anak muda yang kreatif, anak muda yang peduli dan ingin berbagi, berangkat dari semangat induk mereka yang besar, Kaskus. dan yang sejauh yang saya ketahui, dibalik nama besar Kaskus juga berdiri beberapa orang muda kreatif yang telah mampu menunjukkan diri, bahwa paradigma itu berubah, mereka adalah beberapa dari sekian banyak online entrepreneur sukses yang mengawalinya dari niat berbagi sesama.

Niat saling berbagi itu tidak hanya berada dalam obrolan thread remeh-temeh, tapi benar-benar mereka ujudkan dalam aksi berbagi nyata, silahkan mengunjungi hasil dokumentasi aksi-aksi mereka dari mulai bakti sosial sampai usaha keras memperkenalkan potensi wisata Gresik dengan photo-photo narsis ala anak muda. Tapi justru dengan ke-narsis-an merekalah membuat regional gresik itu menjadi hidup dan menampilkan sesuatu yang lain, aksi sosial dan berbagi yang biasanya nampak formal menjadi kelihatan santai dan mengasyikkan. Dan satu lagi, tulus tanpa tedeng aling-aling, jauh dari nuansa politis, yang kian hari kian nampak palsu dan menjemukan.

Sedemikian niat, sedemikian juga harapan, berdirinya komunitas Blogger Nggersik juga mempunyai niatan yang sama dengan kaskuser regional Gresik itu, tapi tak pernah terwujud karena kesibukan anggota yang lain dan berbagai alasan, tapi itu bukan persoalan, karena kita mesti menyadari, seperti pernyataan founding father yang saya kutip diatas, dipundak anak muda kreatif seperti merekalah Gresik masa depan itu dibebankan, di tangan-tangan trampil dan ide-ide besar merekalah Gresik dengan segenap harapan itu hendak diwujudkan. Semoga.

Liar, Nakal Dan Kesemuanya Hanyalah Biasa

Sengaja saya memplesetkan judul itu, dari sebuah sumber buku yang sama, bisa sangat mungkin dikarenakan ketidakmampuan saya untuk menyerap kekuatan suasana yang dihadirkan, menjadikan pembacaan saya di 12 cerpen dalam “Aku jatuh cinta lagi pada istriku” karya Mardi Luhung menjadi datar, hambar, jungkir-balik dan tak tahu estetika apa yang sesungguhnya tengah dicoba untuk dihadirkan.

Alih-alih menyuguhkan dunia meta-realitas, membangun alur yang liar tapi memikat sekaligus memukau semakin membuat saya sulit untuk menerima ruang-ruang tafsir realitas, ruang liar dan nakal yang gelap, yang sulit untuk dikenali, liar nakal penuh gairah yang lebih mirip sebagai sebuah upaya untuk mencoba mengeksplorasi imaji pribadi. Keliaran narasi, kesadaran akan rasa, dan kenakalan yang kritis ala Mardi Luhung pengarang asal Gresik itu, yang telah banyak disebut-sebet oleh banyak pengamat cerpen yang lain, apakah merupakan warna baru dalam eksplorasi estetika atau hanya sebuah upaya eksplorasi sepanjang rentang 1994-2009, jawabannya tentu kembali kepada masing-masing.

Jika peresensi lain bisa menangkap kumpulan cerpen ini sebagai hal yang menggugah, membangkitkan sekaligus memandangnya sebagai perspektif kekinian dari sebuah kumpulan cerpen dari sisi penyair yang tak bisa lepas dari trah kepenyairannya, saya, mencoba jujur, tidak mendapatkan hal tersebut.

Tentu, saya sepakat untuk mengapresiasi sebuah karya, sebuah upaya melawan lupa dengan cara mengumpulkan cerpen yang berserakan diberbagai media dalam sebuah buku.

Sekedar Ucapan

Ini hal biasa, ini hal yang tak penting, ini sekedar pemerah blog, lagipula ini sudah telat, dan teman saya pernah bilang, “Saya tak biasa mengucapkan selamat tahun baru mas, apalagi dengan pakai acara berjabat tangan dan bersalam-salaman, koyok riyoyo wae mas, paling banter saya cuman melekan semaleman dengan tetangga di gang-gang kampung, tak terkecuali tahun baru kali ini, meski hujan tak reda sampai pagi, jadinya kemarin hanya di pos kamling saja”. Demikian kata teman saya itu, yang hari ini sengaja saya mampir kerumahnya sekedar bertanya kabar dan juga karena sebuah kebetulan, saya ada sedikit keperluan didaerah dimana ia tinggal.

Apa yang dibilang teman saya itu juga bukan hal yang penting, tak ada sangkut-pautnya dengan sampeyan, dan ini singkat saja, biar saya agak sedikit modern dan mengikuti jaman meskipun terseok-seok, saya ingin mengucapkan “Selamat Tahun Baru 2012” buat sampeyan semua, sesuatu yang ringan untuk saya ucapkan, dan untuk beberapa alasan, saya juga sepakat seperti yang sudah dibilang teman saya tadi, agak kaku, karena saya juga tidak biasa mengucapkan selamat tahun baru dengan saling berjabatan tangan apalagi dengan berpelukan, semoga sekedar ucapan ringan tapi cukup mewakili. Sekali lagi, Selamat.

Jeneng

Jeneng (baca: nama), kata teman saya suatu ketika, adalah sebuah pertanda bahwa kekuasaan itu ditancapkan sejak semula, seperti nama itu disematkan dari orang tua anda ke sampean, dan juga seperti sampeyan memberikan nama kepada anak anda, dengan mencari referensi sana sini, dengan bertanya kepada seseorang yang anda percayai bahwa calon nama anak anda itu akan memberikan berkah, dan seperti juga petuah religius, sebagai orang tua, sampeyan berkewajiban memberikan nama yang baik untuk anak-anak sampeyanm meski pada kemudian anda terkadang bertanya-tanya, apa sesungguhnya arti nama yang diberikan orang tua untuk sampeyan itu.

Untuk sebuah jeneng yang berubah, sebuah nama yang tidak konsisten, nama yang dipadatkan, atau demi sebuah jeneng yang dicari-carikan arti, sebuah jeneng dengan serentetan makna, dari Persegres Gresik ke Gresik United, dan kemudian kembali ke Persegres Gresik, saya usil dan bertanya, apa arti sebuah nama bagi sampeyan, apakah seperti kata Shakespeare lewat dialog Romeo Montague dan Juliet Capulet, What’s in a name? That which we call a rose.

Untuk memastikan perubahan jeneng itu baik, sesekali kita perlu mencoba bertanya kepada Ki Joko Bodho hanya dengan melakukan sms dengan format REG JENENG.

Membaca Gresik Dalam Pengalaman Estetik

Dikota-kota pesisir seperti Gresik itulah komunitas-komunitas Islam yang paling awal terbentuk, di kota pelabuhan pesisir seperti Gresik, Sedayu, Tuban, Demak dan Jepara itulah kegiatan-kegiatan ke-susastra-an itu bermula

Tentu, saya mengutip kalimat diatas dari sebuah kajian Pigeaud , Penilisik literatur Jawa asal Belanda itu. Bagi saya, Pigeaud memanjangkan sejarah Gresik dalam kerangka Estetik masa lalu, dan kekinian Gresik menghapus segala kejayaan tradisi tulisnya, menenggelamkannya dalam-dalam tanpa memberi kesempatan, untuk bisa, setidaknya kembali kepermukaan.

Kekayaan estetik Gresik sebagai salah satu kota pelabuhan pesisir yang tersohor dijamannya dan diiringi kegiatan-kegiatan kesustraan itu berkembang dalam berbagai khasanah, selain sastra kitab, hikayat, kisah-kisah lepas dan ada juga yang berbentuk karya ketata-negaraan dan pemerintahan, seperti “Paniti Sastra”, salah satu dari sekian yang melegenda, dan terlebih lagi dalam karya yang bercorak sejarah kota itu sendiri, “Babad Gresik” adalah sebuah bukti bagaimana tradisi tulis di kota pelabuhan itu berkembang sedemikian pesat.

Kejayaan Gresik dalam pengalaman Estetik itu selain didukung letak Gegografisnya yang berada dipesisir yang sangat mendukung dan terbuka terhadap segala pengaruh kebudayaan di jamannya, juga sangat tidak bisa dipungkiri adalah peranan besar Sunan Giri di Gresik.

Jika pencapain estetik Gresik dimasa lalu adalah sebagai wujud tingginya pencapaian budaya luhur yang banyak dipengaruhi warna religius Islam, maka modernitas Gresik yang diwujudkan dengan usaha keras dan abai terhadap pengalaman estetika masa lalu adalah sebuah langkah mundur, mbeling dan sekaligus tak tahu diri.


Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Kunjungan

  • 146,794 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</