Posts Tagged 'Waroeng Kopi'

Saujana

Respice, adspice, prospice!

Sepertinya ini mendekati kebenaran, saya masih menggunakan kata “sepertinya”, karena menjaga harapan untuk tetap selalu ada adalah sebuah semangat.

Saya tak hendak menulis panjang tentang kekeringan dan kekurangan air bersih di kota ini, karena ini adalah persoalan langganan, dan penyelesaian persoalannya hanya dengan retorika dan tindakan nyata droping air bersih sementara, tapi solusi ini lebih dari sementara, tapi sudah menjadi cara jamak yang rutin dan menyetahun. Musim kemarau dengan dropping air bersih dan musim penghujan yang identik banjir dengan nasi bungkus dan sembako. (untuk detail, silahkan baca ulang arsip koran-koran lokal).

Sejarah kepemimpinan daerah yang buruk memang akan terus berulang, seperti kata teman saya, sekeras apapun rakyat mengkritik dan mengingatkan, akan sulit untuk didengar oleh mereka, karena pemerintahan yang buruk hanya punya telinga untuk diri mereka sendiri, ia tak mampu mendengar yang liyan.

Apa sebenarnya yang menjadi saujana dari bergantinya kepemimpinan daerah jika ia tak mempu mencermati dan belajar dari kesalahan pemimpin sebelumnya, tak ada respice dan prospice. Di penghujung tulisan singkat ini saya hendak mengutip pengingat terakhir dari Augustus Caesar, Acta est fabula, plaudite! (Sandiwara telah usai, bertepuktanganlah!).

Biaya Pendidikan Pra Sekolah

The principal goal of education in the schools should be creating men and women who are capable of doing new things, not simply repeating what other generations have done; men and women who are creative, inventive and discoverers, who can be critical and verify, and not accept, everything they are offered

Adalah Jean Piaget yang mengatakan demikian, sederhana saja, saya ingat pakar kognitif  Jean Peaget ketika membaca mahalnya biaya pendidikan pra sekolah di Gresik yang dimuat harian dengan oplah besar itu, saya ingin menulis lebih panjang dari sekedar tulisan singkat seperti ini dengan sedikit menambahkan, bahwa mahalnya pendidikan pra sekolah itu tentu saja dengan dukungan penuh ketidak-tahuan, ketakutan dan status sosial ekonomi orang tua, dengan tidak menampik kenyataan pentingnya pendidikan sejak usia dini, yang telah didukung riset ketat bahwa usia 0-4 tahun adalah golden age untuk mendidik anak diawal usia.

Kesenjangan pendidikan telah dimulai sejak awal mula, maka pendidikan gratis untuk tingkat lebih tinggi dengan kualitas yang bisa dibilang cukup akan sulit dibayangkan akan seperti apa bentuk dan kualitasnya. Pendidikan telah berubah bentuk menjadi paket-paket komoditi dengan diskon sekian persen untuk ditawarkan ke konsumen dan diambil keuntungan darinya, disini orang tua mengambil peran untuk menentukan, karena tidak mungkin anak-anak pra sekolah itu memilih sendiri mana diskon yang paling gede bukan?. Disinilah, konon katanya business di area ini sangat menjanjikan.

Jika kita punya pertanyaan dimana peran pemerintah daerah Gresik, saya rasa akan lebih baik jika kita tak punya pertanyaan tentang peran pemerintah daerah soal ini, karena sebenarnya sampeyan sudah tahu bukan?.

Kebijakan

Awal mula prinsip kebijakan yang baik itu dapat dilihat bagaimana seorang kepala rumah tangga itu menerapkan kebijakan yang diambilnya untuk pemerintahan terkecil, pemerintahan di rumah-tangganya.

Dengan waktu yang tidak memungkinkan, saya tak ingin memperjelas dan memperpanjang mengenai hal ini, ringkasnya, saya hanya ingin bilang, jika ada pemimpin yang amburadul dalam mengambil kebijakan, sampeyan bisa menduga-duga dan membayangkan bagaimana amburadulnya kebijakan yang ia terapkan dalam kehidupan rumah tangganya. Oh ya, rumah tangga pemimpin sampeyan adalah ranah pribadi, daerah tak tersentuh dan ditutup rapat-rapat, untuk itu saya bisa jadi salah menilai.

Tapi penting untuk sampeyan ketahui, paragraf pembuka diatas terinspirasi oleh apa yang pernah dikatakan seorang British Statesman and Prime Minister yang hidup di era 1868-1894, William Ewart Gladstone, karena ini bukan British, tapi ini Gresik, karenanya saya mengubah sesuka-suka saya, dikarenakan ini adalah kebijakan di hari senin.

Salah Bicara

Ada orang-orang yang salah bicara, lebih tepatnya salah topik, saya ragu jika ini sebuah ketidak-sengajaan, karena kerap kali hal seperti ini justru dilakukan dengan sengaja oleh para pejabat, mengambil kesempatan yang tidak pada tempatnya, mereka para penguasa yang  memaksakan diri untuk menunjukkan banyak keberhasilan daripada mendengar keluhan, jika mereka berada di puncak jabatan tertinggi, maka kesempatan bicara atau sekedar sambutan singkat yang dberikan kepadanya  akan digunakan untuk menunjukkan bahwa setiap keberhasilan adalah berkat usahanya, jika wakil penguasa diberi kesempatan, apa yang maksimal ia bisa lakukan hanyalah memuja penguasa tertinggi saat itu.

Karena saya tak pernah jauh meninggalkan kota Gresik, maka kejadian salah bicara, salah topik, sikat habis setiap kesempatan abaikan setiap keluhan hanya terjadi disini, di Gresik, di kota yang konon penuh dengan harap terjadinya perbaikan, Gresik yang lebih baik.

Salah topik dan salah bicara tidak selalu akan salah sasaran, agaknya ini diketahui dengan benar oleh penguasa atau pejabat yang mewakili disetiap kesempatan memberikan sambutan, memanfaatkan keluguan dan ketidak-tahuan setiap yang hadir adalah peluang memancangkan ingatan, bahwa ini adalah berkat usaha keras mereka, tapi mereka lupa, hal-hal yang berlebihan akan membuka lebar-lebar setiap jengkal kegagalan dibalik klaim keberhasilan,  bagaimana bisa sebuah kemajuan pembangunan itu diukur dari besarnya nilai bantuan dari luar potensi daerah Gresik itu sendiri?.

Tulisan ini hanya sekedar catatan singkat saya ketika mendengar wakil penguasa itu memberikan sambutan sebagai yang mewakili Kepala Daerah Kabupaten Gresik disalah satu acara, jika ia bisa dengan mudah mengukur kemajuan Gresik hanya dengan besarnya bantuan dari luar potensi daerah Gresik, ijinkan saya mengukur seberapa dangkal kapasitas mantan petinggi salah satu dinas itu.

Tambak 1926

Alkisah, konon katanya, inilah potret tambak di Gresik, sebelum atau ketika 1926, entah darimana raksasa ensiklopedia dunia itu mendapatkan gambar tersebut, jangan-jangan mereka salah ambil gambar, tapi jika benar, bolehkah saya tahu dimana sesungguhnya lokasi dari gambar ini.

Tambak ditahun 1926 barangkali akan mudah ditemui, jadi apa tepatnya lokasi gambar itu sekarang ini, bangunan kokoh berpagar tinggi, atau bangunan dengan cerobong berasap hitam dengan penjagaan ketat satpam didepan pintu masuknya.

Mengamati lamat-lamat gambar diatas serasa saya sudah pergi rantau ratusan tahun lamanya, seperti kata orang-orang, pulang kampung dari tanah rantau pada akhirnya hanyalah pulang kembali pada kenangan.

Liar, Nakal Dan Kesemuanya Hanyalah Biasa

Sengaja saya memplesetkan judul itu, dari sebuah sumber buku yang sama, bisa sangat mungkin dikarenakan ketidakmampuan saya untuk menyerap kekuatan suasana yang dihadirkan, menjadikan pembacaan saya di 12 cerpen dalam “Aku jatuh cinta lagi pada istriku” karya Mardi Luhung menjadi datar, hambar, jungkir-balik dan tak tahu estetika apa yang sesungguhnya tengah dicoba untuk dihadirkan.

Alih-alih menyuguhkan dunia meta-realitas, membangun alur yang liar tapi memikat sekaligus memukau semakin membuat saya sulit untuk menerima ruang-ruang tafsir realitas, ruang liar dan nakal yang gelap, yang sulit untuk dikenali, liar nakal penuh gairah yang lebih mirip sebagai sebuah upaya untuk mencoba mengeksplorasi imaji pribadi. Keliaran narasi, kesadaran akan rasa, dan kenakalan yang kritis ala Mardi Luhung pengarang asal Gresik itu, yang telah banyak disebut-sebet oleh banyak pengamat cerpen yang lain, apakah merupakan warna baru dalam eksplorasi estetika atau hanya sebuah upaya eksplorasi sepanjang rentang 1994-2009, jawabannya tentu kembali kepada masing-masing.

Jika peresensi lain bisa menangkap kumpulan cerpen ini sebagai hal yang menggugah, membangkitkan sekaligus memandangnya sebagai perspektif kekinian dari sebuah kumpulan cerpen dari sisi penyair yang tak bisa lepas dari trah kepenyairannya, saya, mencoba jujur, tidak mendapatkan hal tersebut.

Tentu, saya sepakat untuk mengapresiasi sebuah karya, sebuah upaya melawan lupa dengan cara mengumpulkan cerpen yang berserakan diberbagai media dalam sebuah buku.

Sajak Kota

Jika sebuah kota butuh puisi untuk mengukuhkannya dalam serentetan kata melankolia, ijinkan saya mengutip sebuah puisi Aan Mansyur yang berjudul “Kota: Anak desa yang kurang ajar”, yang ia tulis diseputar 2007.

Saya memilih sajak Aan Manysur itu bukan tanpa alasan, saya rasa, ia sajak yang paling tepat untuk memberikan gambaran tentang kota-kota besar, kemiripan keserakahan sebuah kota besar menjadikan Gresik tak ubahnya sama kejam dengan kota-kota besar lainnya di negeri ini, ketidak-pedulian petinggi sebuah kota, industri yang menggila, dan masyarakat heteregon yang acuh terhadap masa depan kotanya sendiri. Akankah Gresik menjadi anak desa yang kurang ajar?.

KOTA: ANAK DESA YANG KURANG AJAR
2007

Kota adalah anak desa yang amat kurang ajar.
Tidak satu pun petuah yang dia mau dengar.
Dia kira bisa dewasa dengan membakar lembar
buku-buku tua dan hanya membaca surat kabar.

Kota menikah dengan orang asing lalu lahir
anak-anak yang setengah mati pandir dan kikir.
Dia mendirikan banyak bangunan tanpa pikir,
mall, hotel, bioskop, restoran dan lahan parkir.

Kota mengajak orangtuanya datang jadi pembantu
dengan mengirimkan hiburan-hiburan ke kampung
televisi tak pakai antena atau sinyal telepon genggam.
Katanya, semua itu sekadar bayaran atas hutangnya.

Kota menyuruh anak-anaknya pergi ke kampung
membangun villa dan membuka usaha tambang.
Orang-orang asing datang berwisata dan pulang
membawa bertruk-truk emas, minyak dan uang.

Kota sedang berpesta pora makan-minum sepuasnya
hingga mabuk di atas perut orangtuanya yang sabar.
Hanya begitu caranya menghibur diri sebab dia sadar
semakin hari semakin besar dan subur rasa sesalnya.

Continue reading ‘Sajak Kota’


Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Kunjungan

  • 138,963 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</