Posts Tagged 'Sampah'

Mencoba Lagi

Ini hiatus terlama yang pernah saya lakukan, tentu ini subjektif sejauh ingatan saya, dan untuk kali ini saya tidak akan berjanji untuk selalu meng-update isi blog ini secara rutin, kesadaran saya menasehati untuk melihat kemampuan diri yang terus menunjukkan grafik penurunan.

Oh…ya, saya akan selalu punya banyak alasan kenapa tidak bisa update rutin, dan ini seperti kebiasaan saya yang akan selalu mencari pembenaran atas segenap dalih kemalasan, ditambah akses internet di rumah dengan layanan provider yang tak pernah sadar diri, meski sesekali provider itu saya dengar pernah masuk menjadi salah satu perusahaan dengan profit yang mengagumkan, dan maaf, bukankah ini adalah sebuah perampokan korporasi?.

Demi menjaga konsistensi saya nge-blog, ijinkan untuk kali ini saya akan memulai dengan menjawab komentar-komentar yang masuk di blog ini, dan saya pandang komentar itu perlu untuk saya jawab, meskipun saya pernah membuat posting tersendiri tentang kenapa saya enggan untuk mengomentari tapi tetap saja saya membaca komentar-komentar itu.

Sebelum saya memulai, ijinkan saya menyampaikan permohonan maaf saya, mumpung masih dalam suasana lebaran yang fitri. Selain permohonan maaf saya dengan harapan besar untuk dimaafkan, saya juga mohon doa agar saya bisa lebih punya banyak kesempatan untuk terus update di blog ini.

salam,

ps : gambar diambil dari sini

 

 

 

Venezia di Kali Lamong

Imajinasi bisa jadi kurang ajar, mimpi bisa jadi teramat liar, tapi tak ada yang salah dengan imajinasi tentang kali lamong bukan?.

Jika suara saya adalah suara rakyat yang tak hanya diperhitungkan ketika berada dalam bilik-bilik sempit pemilukada, jika suara saya adalah suara rakyat yang mampu memberi mandat kepada penguasa, maka ijinkan saya menugaskan kepada mereka pemegang kuasa, hentikan banjir tahunan dari kali lamong dan jadikan kali lamong layaknya Venezia.

Sampeyan akan bilang bahwa ini adalah ide gila dan ngawur, tapi bukankah kegilaan terkadang diperlukan untuk membuat kita rehat, sejenak, dan mengalihkan kegilaan kita kepada mereka, setidak-tidaknya.

Kita mesti menyadari, seperti yang saya kutip dari tulisan salah satu teman, kali atau sungai itu layaknya makhluk hidup, ketika menusia ceroboh memperlakukan sebuah kali/sungai, ia, disadari atau tidak, akan melampiaskan dendamnya, bisa dengan air bah, atau banjir bandang yang akhirnya menghancurkan segala hal.

Sejenak untuk rehat, jadikan kali lamong Gresik layaknya Venezia.

Bukan Oran

Gresik bukanlah Oran, tapi diskripsi tentang kota Oran itu terdengar mirip, atau Gresik adalah sebuah reinkarnasi dari Oran yang murung dibelahan Aljazair itu.

Oran, sebuah kota tanpa burung merpati, pepohonan ataupun taman dan halaman, sebuah kota tanpa ekspresi. Matahari membakar rumah-rumah yang kering dan musim hujan merupakan musim banjir yang rajin berkunjung. Penduduknya mengikuti alur rutinitas, pekerja keras dan acapkali memperkaya diri, karena yang terpenting bagi masyarakat kota itu adalah mencari keuntungan dan selebihnya adalah kesenangan, sebuah kota tanpa keindahan, bersemu dalam keseganan.

Continue reading ‘Bukan Oran’

Sebelum Acara Biasa

Kita memang berada dalam koridor peradaban manusia, dan kita tengah menyaksikan bagaimana eksploitasi itu dilakukan terhadap orang-orang yang sudah ditaklukan oleh penguasa yang diberi keistimewaan untuk mengunyah rakyatnya sendiri.
Bukankah konstitusi itu dibuat untuk menjadikan mereka sebagai anjing penjaga bagi rakyat, bukan malah menjadi serigala.
“Agh.. ngomong soal itu lagi ya?, males.. ruwet … mbulet, sampean memang ngomong thok!”
Dan kemudian kita saling ngudud, menikati kopi panas masing-masing dan seketika diam sesaat, karena itulah yang biasa kita lakukan bersama.

Ketaatan

Begitulah jika adigang adigung itu dipelihara atau malah diwariskan, selalu ada yang dikuyo-kuyo karenanya.Embuh karena lupa atau sengaja melupakan dari mana dia berangkat, ketika posisi sudah diatas dan sedikit kekuasaan, sudah bertingkah sebagaimana layaknya para penguasa atau raja pada jaman dulu, nikmatnya kedudukan dan hangatnya para selir menjadikannya semakin ndodro tanpa tepo sliro.

Atas nama ketaatan kepada atasan, semua harus ada batas, bahkan sampai pelarangan, peng-kerdil-an menjadi biasa, uneg-uneg akan dianggap berseberangan, maka siapapun yang menghalangi jalan akan halal untuk disingkirkan, tentu semua dilakukan demi satu tujuan.

Bukan bermaksud kesukuan, tapi bukankah tidak semua orang jawa itu njawani?


Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Kunjungan

  • 138,963 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</