Posts Tagged 'Judheg Mbedhedheg'

Mencoba Lagi

Ini hiatus terlama yang pernah saya lakukan, tentu ini subjektif sejauh ingatan saya, dan untuk kali ini saya tidak akan berjanji untuk selalu meng-update isi blog ini secara rutin, kesadaran saya menasehati untuk melihat kemampuan diri yang terus menunjukkan grafik penurunan.

Oh…ya, saya akan selalu punya banyak alasan kenapa tidak bisa update rutin, dan ini seperti kebiasaan saya yang akan selalu mencari pembenaran atas segenap dalih kemalasan, ditambah akses internet di rumah dengan layanan provider yang tak pernah sadar diri, meski sesekali provider itu saya dengar pernah masuk menjadi salah satu perusahaan dengan profit yang mengagumkan, dan maaf, bukankah ini adalah sebuah perampokan korporasi?.

Demi menjaga konsistensi saya nge-blog, ijinkan untuk kali ini saya akan memulai dengan menjawab komentar-komentar yang masuk di blog ini, dan saya pandang komentar itu perlu untuk saya jawab, meskipun saya pernah membuat posting tersendiri tentang kenapa saya enggan untuk mengomentari tapi tetap saja saya membaca komentar-komentar itu.

Sebelum saya memulai, ijinkan saya menyampaikan permohonan maaf saya, mumpung masih dalam suasana lebaran yang fitri. Selain permohonan maaf saya dengan harapan besar untuk dimaafkan, saya juga mohon doa agar saya bisa lebih punya banyak kesempatan untuk terus update di blog ini.

salam,

ps : gambar diambil dari sini

 

 

 

Advertisements

Muram

Tentu, saya tak akan bisa menyamakan Gresik dengan kota-kota besar lainnya, terlebih dengan Beijing, tapi untuk membandingkan kemuraman sebuah kota, ijinkan saya menyamakan kemuraman kota Gresik dengan Beijing yang tertangkap di mata Zhang beberapa puluh tahun silam.

“Bangunan-bangunan itu kelabu, semua orang berpakaian abu-abu. Kami tidak pernah melihat langit. Tidak ada gagasan dari langit biru untuk sebuah kemakmuran” kata Zhang suatu ketika. “Kemakmuran” dalam arti yang seluas-luasnya agaknya menjadi barang mahal yang tak akan terbeli, apalagi kita mengaharapkan kemakmuran itu jatuh dari langit kota Gresik.

Selanjutnya Gresik adalah kota muram

Pengaduan

Ketika pengaduan segala persoalan pelayanan publik di Gresik adalah sekedar persoalan penampungan dan butuh pendengar tanpa tindakan, maka sampeyan akan merasa cukup dengan berita berikut, yang lebih mirip sebuah kisah pengantar tidur, menina-bobok-kan, semu, atau bisa jadi sejenak menghibur.

Saya akan menuliskan ulang cerita menina-bobok-kan itu disini dengan cetak miring, sedikit saya akan menambahkan komentar disetiap paragraf yang saya anggap perlu, setidaknya akan membuat kisah pengantar tidur itu sedikit seimbang, maksud saya, akan membuat kita berada pada keadaan antara tersadar dan tertimpa kantuk yang amat sangat, liyer-liyer orang nggersik bilang.

Biar sedikit ada alur cerita disetiap kisah, saya akan menambahkan sebuah judul, diantara sekian judul yang terlintas sekilas judul ini agak sedikit bisa diterima “PENGADUAN MASYARAKAT CUKUP LEWAT MIMPI”, cocok bukan?.

Continue reading ‘Pengaduan’

Bagaimana Jika

Karena dosa itu bukan bernama imajinasi

Saya hanya merangkum dari sekian kasat-kusut, rasan-rasan dan guneman di warung-warung kopi dan disetiap gardu jaga kampung diantara ketawa cekiki’an, senda tawa serta cerita singkat keseharian, sekilas imajinasi singkat dari sekian banyak pokok cerita itu adalah, “bagaimana jika Gresik tanpa Bupati”.

Saya tak mengajak sampean berandai-andai yang sama, apalagi menyetujui, karena mungkin sampean tak setuju, berpendapat beda, toh ini ringan dan remeh dari sekian obrolan nggak jelas yang berlagak memikiri.

Apa Gresik akan baik-baik saja?, atau ini tak mungkin, ataukah harus ada yang memimpin Gresik kedepan untuk menjaga jarak agar agar cita-cita yang tak tersentuh itu didekatkan?, apakah harus?, bagaimana jika yang diharapkan itu meleset, atau sampean malah merasa, kita memilih yang terbaik dari sekian pilihan buruk?.

Ah, ini imajinasi, dan sekali lagi, ini bukan dosa.

Identitas

Tak ada hubungannya dengan filsafat Identitasnya Hegel, tapi ia berteriak sekedar untuk mendapat pengakuan atau sebentuk apresiasi bahwa ia lebih dari yang lain, dan karena kelebihannya itu, ia minta yang lain untuk tunduk, setidaknya manut.

Saya menganggapnya biasa saja, ketika seseorang bangga dengan mainan pertamanya, ia merasa sudah menjadi “yang lebih” dengan kemampuan yang pas-pasan, sebetulnya hal itu bukanlah soal, tapi ketika ia mulai menjelek-jelekkan yang lain dan mengatakan yang lain bodoh dan tak tahu seperti yang ia ketahui, barulah hal itu menjadi soal, sedikit membuat kesal dan risih dengan teriakan-teriakannya itu.

Tapi bagaimanapun, yang tahu dan memahami keadaan memang harus mengerti dan memaklumi, seperti itulah tingkahnya, ia akan selalu berteriak kesana- kemari untuk mengatakan dirinya yang “lebih” dan minta dianggap “berkemampuan”. dan hal itu menjadi terkesan lucu dan mengundang tawa ketika ia ternyata sungguh-sungguh belum mampu menunjukkan apa-apa.

Posting singkat, lantaran pesan-pesan singkat itu.

Kalo Sudah Maunya!

EhIya, sebenernya kita yang satu tim itu tahu apa yang terbaik yang bisa dilakukan, toh kita sebelumnya sudah membicarakannya, berhari-hari bahkan, dan hampir semua menerima dan setuju dengan keputusan yang kita ambil bersama, dengan setumpuk artikel-artikel yang harus dihabiskan dalam seminggu.

Tapi kalo sudah juragan itu berbeda kemauan dengan menanggung segala resiko, eh terpaksa kita ini diam, bahkan tak sanggup menggeser pantat sedikitpun di ruang meeting.

Ah… otak cerdas dan mata yang telah kita pacu dengan berbungkus-bungkus kopi dan beratus batang rokok kemarin ternyata sia-sia, masih saja kalah dengan recehannya juragan!

pics taken from here 


Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Kunjungan

  • 139,870 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</