Mengurangi Janji

“Untuk seratus hari kedepan, saya tak bisa janji muluk-muluk”

Disini kita menjadi tahu, apa yang menjadi pembeda antara janji Tuhan dan janji seorang pemimpin yang terlanjur kita harap-harap besar untuk menjadikan Gresik seperti yang kita impi-impikan, pada akhirnya, entah sebuah kesengajaan dan kemudian kita sadari sebagai sebuah cara untuk mengurangi janji-janji.

Yang terucap akan berlalu bersama angin (verba volant), karenanya, yang dijanjikan bersiap diri untuk kecewa, seperti sebuah siklus putaran yang entah terlambat kita sadari atau kita sudah terbiasa dengan uforia lima tahunan, ia akan melahirkan barisan sakit hati, bukan hal baru untuk sebuah demokrasi, apalagi untuk Gresik, kota kecil pinggiran, yang selalu terlambat dihampiri kesadaran penghuninya.

Selalu ada pembenaran untuk sebuah sikap, mungkin saja demikian, toh ini baru beberapa hari, masih tersisa lima tahun kedepan, dan masa depan hanya untuk mereka yang setia pada harapan, tapi masa depan Gresik, berada pada ujung lidah dan ujung telunjuk penguasa saat ini, yang kita tahu, perlahan (semoga saja saya salah) ia mengurangi janji untuk membawa Gresik seperti yang kita idamkan, saya dan juga sampeyan akan menjadi saksi sejarah perjalan kota Gresik yang sudah terlalu lama tak diakrabi kesejahteraan, seperti yang kita saksikan dari tetangga sebelah, ini lebih dari sekedar urusan iri hati, tapi sudah soal rasa “malu” yang terasa sudah menahun.

Semoga sampeyan setia pada harapan, tapi keterkejutan saya tak segera berakhir, mungkin saya terlalu pesimis, bagaimana mungkin seorang pemimpin yang terlanjur kita gadang-gadang untuk melakukan perubahan hanya mampu bilang akan meneruskan program lama dari pendahulunya?, maaf, ijinkan saya menduga-duga tanpa dasar, apa sebenarnya ia tak sanggup dan terlambat menyadari bahwa harapan yang ditanggungkan masyarakat Gresik itu terlalu besar?. jika benar demikian, maka masyarakat Gresik yang pernah besar dalam sejarah harus kembali mengubur mimpi-mimpi surga dalam-dalam, atau lebih baik, kita obrolkan saja Gresik sebagai surga di warung-warung kopi pinggir jalan, tidak sehat bagi tubuh tapi setidaknya menyehatkan bagi jiwa. Yok opo Rek!.

1 Response to “Mengurangi Janji”


  1. 1 Anak kos2an November 7, 2010 at 8:06 pm

    Keren bro artikel’e,. Salam bl0gger gresik. Mending ng0pi ae ambek ngumbah moto.. Ass


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Recent Comments

Apotek Munggu Farma on Gresik Di Linimassa
Apotek Munggu Farma on Gresik Di Linimassa
Sakinah Arifin on Masa Tua
bisnis susu on Saujana
Phil on Budaya Ngopi!

Kunjungan

  • 137,145 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</


%d bloggers like this: