Kopi, Filosofi Nongkrong & Rapat Pertama

rapat-nggersik1Pernah suatu ketika saya membayangkan, Yunani, negeri dengan segudang filosof terkenal itu tak beda jauh dengan kota Gresik, jika saya dulu tidak salah baca dan tidak sedang lupa ingatan, di sana, banyak pemuda dan penduduk kota hanya nongkrong di kedai-kedai, ngobrol, dan berdebat tentang apa saja, saya membayangkan mereka ngobrol tentang persoalan-persoalan kemanusian, ketidak adilan, perang, dan masalah-masalah perekonomian tentu saja.

Perdebatan mereka bisa saja berlangsung sengit penuh konsentrasi, lantaran pekerjaan sehari-hari diserahkan pada budak-budak yang merka miliki, dan ini yang membedakan, mereka tidak terbebani soal ekonomi pribadi, sedangkan kita, mungkin obrolan ndak mutu, obrolan pelepas lelah dan obrolan ndak jelas ala warung kopi.

nggersik-rapatSuatu waktu, mbah putri saya pernah marah-marah, bagaimana bisa saya nongkrong berjam-jam di warung kopi, “nggedabrus opo wae! mbok waktu itu dimanfaatkan!” begitu kata beliau, dengan guyon sayapun berusaha ales dari tuduhan itu, “mbah, biar di warung kopi, tapi otak saya sudah sampai di Jerman”“Jerman mu le, jejere Kauman po?” begitu beliau menimpali beberapa tahun lalu.

Jika pertemuan kemarin adalah rapat perdana, bukanlah sebuah dosa jika saya mengatakan tiap hari kita hampir melakukan rapat meskipun ndak jelas topik dan arahnya, lantaran tiap hari kita nongkrong, ngobrol dan tentu sedikit sok serius bicara tentang masa depan komunitas yang masih segilintiran jari itu.

Jadi, bukanlah masalah besar kita mau bikin apa, apapun bentuk dan ujudnya kita mesti yakin bahwa kita bisa. Ayo Rek!.

Sekali waktu, saya juga pernah mendengar, dari seorang ulama besar Gresik itu, dan tentu ini untuk membangkitkan semangat kita semua, sedikit mengingatkan akan sejarah, beliau pernah berkata, “Janganlah kalian semua kaget, jika ada seorang pemimpin besar lahir dari kota Gresik, karena sejarah telah menjlentrehkan dengan gamblang, meskipun kerajaan besar Islam dulu berada di kota Demak, tapi tetap, mereka masih mengirim utusan ke Kerajaan Giri untuk mohon nasehat dari Raden Paku dalam mengambil segala kebijakan”.

Nah, ayo rek! air liurmu buka liur walet rek! liur mu itu ampek, ingat itu.

nb : Jejere Kauman = sebelahnya Kauman, sebuah nama kampung di Gresik!

13 Responses to “Kopi, Filosofi Nongkrong & Rapat Pertama”


  1. 1 Jazili March 4, 2009 at 11:17 pm

    Kauman cedak kampungku rek…

  2. 2 lakonlokal March 5, 2009 at 6:46 am

    kayaknya kauman bukan hanya nama kampung di gresik doang deh, hampir semua daerah mempunyai nama kampung kauman yang biasanya juga terletak di sekitar masjid jami’/agung.

    gresik (giri kedaton) dengan sunan giri-nya dari awal emang merupakan jujugan utusan-utusan kerajaan di jawa karena posisi sunan giri sebagai pemimpin spiritual, dari demak sampai dengan majapahit. sampai terakhir ketika utusan dari kerajaan mataram menyerbu dan mengobrak-abrik giri kedaton (pada masa sunan giri III atau sunan prapen) karena tidak mendapatkan restu dari sunan giri untuk menjadi raja.

  3. 3 edy March 5, 2009 at 8:28 am

    awalnya emang sekedar obrolan warung kopi. tapi kemudian berkembang jadi komunitas yg bermanfaat🙂
    smangat, kang!

  4. 4 gajah_pesing March 5, 2009 at 7:33 pm

    pokok’e aku jaluk undangane nek lonching

  5. 5 edo March 6, 2009 at 2:18 am

    Makanya kalo kita ngopi cari warung yang nyediain koran The Jakarta Post, nyetel musiknya Beethoven dan orang2nya di situ sedang minum double espresso sambil berdebat tentang sastra atau filsafat…. Keliatan agak cerdas kan?

    Ngopio dewe kono…

  6. 6 mybenjeng March 7, 2009 at 2:01 pm

    @edo
    nang nggersik onok sing koyo ngunu?😀

  7. 7 iman brotoseno March 8, 2009 at 5:06 pm

    dari sebuah warung kopi berawal revolusi,..adagium para pemberontak GAM di aceh, yang membicarakan strategi di warung warung kopi,..sampai para seniman TIM yan bisa semalaman membuat naskah disini..
    ato semangatss…

  8. 8 L 34 H March 9, 2009 at 7:15 am

    Tak kancani ngopi dari jogja dan dirumah😛

  9. 9 zam March 14, 2009 at 1:33 pm

    kapan kita bisa nongkrong di warung kopi di Gresik, cak?

  10. 10 ziegrusak March 14, 2009 at 11:10 pm

    everyday is ngopi deehh…

  11. 11 Aqil Good March 26, 2009 at 1:25 pm

    Di semua kota, kampung Kauman selalu berada di belakang masjid Agung atau masjid pusat kota. Karena sebutan Kauman mengacu pada kata Kaume (golongan) Wong Kang Iman.

  12. 12 dika1 March 28, 2009 at 6:46 am

    Ngopy tugas, ngopy Pe eR he……
    Everything ngopy

  13. 13 zoehrieya May 30, 2009 at 8:23 pm

    yah..
    sedih ngeliat banyaknya warung yang berdiri dengan maraknya di gresik, yang semakin banyak juga pengunjung warung yang obral ngomong ga’ jelas.

    Sayangnya, jarang ada yang mau mengarah kesana.
    karena orang gresik kalo ke warung pastinya buat menghilangkan penat sehabis kerja di pabrik. Bukan kaya warung kopi di kota-kota elit, yang dibangun di tengah mal yang bisa dipake sebagai ruang pengganti meeting kerja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Recent Comments

Apotek Munggu Farma on Gresik Di Linimassa
Apotek Munggu Farma on Gresik Di Linimassa
Sakinah Arifin on Masa Tua
bisnis susu on Saujana
Phil on Budaya Ngopi!

Kunjungan

  • 137,137 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</


%d bloggers like this: