Ibu dan Sebuah Pengakuan

Sudah lewat memang, tapi saya terinspirasi setelah membaca surat buat emaknya pak sawali disini.

Saya juga ndak tahu, mesti memberikan apa pada hari Ibu kemarin itu, mungkin saja puisi Rating Sanggarwati yang berjudul jika bila ibu boleh memilih itu akan berubah jika membaca ini.

Tak seorangpun bisa mengelak tentang hebatnya perjuangan seorang ibu, demikian juga dengan saya, tidak bermaksud menentang sampean, saya juga tak bermimpi untuk membalasnya, karena bagi saya hal itu ndak akan pernah bisa dilakukan.

Ibu, maafkan anakmu yang terkutuk ini, engkaulah yang telah menunjukkan tentang nilai-nilai kebenaran, tentang yang baik dan buruk, tentang kesopanan dan kepatutan hidup, tentang kewajiban dan tanggung jawab, tentang semangat kepahlawanan, tentang semangat berani karena benar, dan semua nilai moral dan agama itu, karenanya aku berterima kasih bu.

Bu, saya tahu engaku sudah terlalu banyak melewati asam gram kehidupan, dan sekarang saatnya engkau menikmati hari tua, anak-anakmu yang telah engkau bekali dengan pengetahuan, moral, bahkan agama yang cukup ini telah mampu mandiri, telah mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, dan telah lama mampu mandiri secara ekonomi, termasuk menanggung segala kebutuhanmu di hari tua, dan juga memberangkatkanmu ke tanah suci itu, yang lama telah engkau mohonkan lewat do’a dengan tetesan air mata disetiap sujud malam mu itu.

Tapi tahukah engkau wahai Ibu, aku mendapatkan semuanya dari hal yang engkau pertentangkan dulu, dari apa yang mestinya tidak aku lakukan, seperti ajaran-ajaran yang telah engkau dongeng kan menjelang tidurku. Bu, aku masih saja menerima penghasilan kotorku itu, dengan mata tertutup, entah tega atau tidak, aku terus meracuni mu dengan penghasilan kotorku. jangan tanya tentang ibadahku, karena aku masih menjalaninya hanya sebagai ritual kewajiban.

Maafkan aku Ibu, inilah caraku bertahan diposisiku, instan, kompromi, pelicin, menjilat, dan saling adu sikut, tapi inilah satu-satunya cara yang memaksaku bertahan, dan demi untuk membiayai semua kebutuhan itu, jika tidak demikian, tahukah engkau bu, aku bisa kehilangan semuanya dan disalahkan, jika kebenaran yang aku bela, jika kepatutan yang aku anut, jika hati nurani yang aku suarakan, maka mereka akan mengatakan, “kesalahanmu terbesar, adalah karena engkau berada di kebenaran, karena kau tak mau menerima yang ndak jelas seperti apa yang telah kami terima” pernyataan mereka cukup tegas, dan aku tidak mau kehilangan penghasilan, yang dari pengahsilan itulah aku menanggung semua beban hari tuamu itu.

Bu, aku tahu, sampai kinipun engkau belum tahu, darimana semua itu kudapatkan, berdoalah bu, jangan hentikan kebiasaan bangun malam untuk menangis dan sujud itu, mungkin itulah yang bisa menawarkan racun, yang tiap hari aku berikan untukmu.

Akulah anakmu yang terkutuk itu, akankah sosok ibu dalam puisi Ratih Sanggarwati itu akan berbangga karena aku berada dirahimnya selama sembilan bulan? bukankah lebih baik mereka tak melahirkanku saja?

Ibu, telanlah kembali aku diharimu ini kedalam rahimmu itu, dan jangan engkau pernah melahirkanku kembali, sebelum maafmu engkau berikan, bagaimanapun engkau adalah ibuku, yang telah melahirkanku, selamat bu.

ps : Buat Ibu Pertiwi, yang telah banyak melahirkan koruptor di negeri ini!

12 Responses to “Ibu dan Sebuah Pengakuan”


  1. 1 Sawali Tuhusetya December 24, 2007 at 12:53 am

    Ungkapan dan pernyataan dalam postingan ini memang selayaknya disampaikan oleh para koruptor yang tak henti-hentinya menilap uang negara dan rakyat. Sayangnya, jangankan mengungkapkan pernyataan penyesalan, diuber-uber hukum saja masih bisa berdalih macam2. Repotnya lagi, mereka justru merasa bangga apabila sanggup keluar dari jerat hukum. Naudzubillahimin zalik. Koruptor memang sudah saatnya dinyatakan sebagai “public enemy”, musuh bersama, agar ibu pertiwi yang telah melahirkannya tak akan menyesal dari generasi ke generasi.
    *sempat terkejut dapat pink balik, hehehehehe😆 *

  2. 2 icha December 24, 2007 at 1:04 am

    mmmhh..speechless deh kalo ngomongin tanah tumpah darahku ini…

  3. 3 venus December 24, 2007 at 7:05 am

    they’re someone’s sons..😀

  4. 4 iNyoNk December 24, 2007 at 11:35 am

    selamet hari emak 😆
    kok hari bapak nggak ada ya?

  5. 5 kw December 24, 2007 at 12:16 pm

    emak, simbok… aku mau “memensiunkanmu” agar tak cari duit lagi buat makan, tapi kok ya blm bisa rutin ngirim ya kekkekekekk

  6. 6 stey December 24, 2007 at 1:03 pm

    Dalem..mukul..telak..hemm..

  7. 7 Mrs.Neo Fortynine December 24, 2007 at 4:09 pm

    yaiks…

    seandainya mereka membaca ini…

    sayangnya, sepertinya mereka nggak ada waktu buat baca ginian ya?

  8. 8 dodot December 24, 2007 at 7:52 pm

    jangan salahkan ibu pertiwi dong…..

    ibu pertiwi tidak salah tetapi orang yang melahirkan dan mendidiknya lah yang salah menurut gua….

    wahai ibu pertiwi siapa suami mu?

  9. 9 imcw December 24, 2007 at 9:00 pm

    Seringkali kita membuat ibu menangis tanpa kita sadari, namun beliau tidak pernah lupa untuk memaafkan kita.🙂

  10. 10 Totoks December 24, 2007 at 10:20 pm

    ibu sosok yang paling dominan rupanya, mungkin karena kita lebih sering bersama beliau sehingga sosok ayah kadang terpinggirkan. saya mau lebih sering bersama anakku supaya nanti mereka juga mengerti bahwa ayahnya juga mendukung setiap langkahnya😀

  11. 11 kurtubi December 24, 2007 at 10:25 pm

    masa sih kang peyek minta ditelan lagi.. dalam rahim sang ibu…
    ini apakah berarti bahwa alam dunia itu kalah damainya dengan alam rahim yaa kang ?

  12. 12 peyek December 25, 2007 at 4:31 pm

    @ Sawali Tuhusetya
    iya pak, memang satu hal yang disayangkan itu adalah tak satupun diantara mereka itu yang sadar akan hal seperti ini, serasa semua hanyalah riak-riak kecil, masih saja ada anggapan ketidak mampuan kita untuk bersaing

    @ icha
    lha terus mau ngomongin apalagi ya mbak? hehehehe… mungkin ini adalah salah satu bentuk kepedulian

    @ venus
    Hmmm… gitukah?

    @ iNyoNk
    lha segera diproklamirkan, seperti ada bapak blogger, tapi ibu blogger belum ada, kira-kira sapa ya mas?

    @ kw
    agh… sampean suka-nya merendah mas!

    @ stey
    mosok mas….

    @ Mrs.Neo Fortynine
    yo wacakno po’o? hehehehe…

    @ dodot
    lha yang melahirkannya sapa?🙂

    @ imcw
    bener dok!

    @ Totoks
    setelah blogger teladan, ternyata sampean ayah teladan? hehehehe… iya mas!

    @ kurtubi
    nah.. dunia kita sekarang ini kan begini kang? tanpa kepatutan, semua diblejeti habis tanpa sisa, sepertinya begitu kang!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Recent Comments

Apotek Munggu Farma on Gresik Di Linimassa
Apotek Munggu Farma on Gresik Di Linimassa
Sakinah Arifin on Masa Tua
bisnis susu on Saujana
Phil on Budaya Ngopi!

Kunjungan

  • 137,157 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</


%d bloggers like this: