Kitab Itu, Sekotak Kartu Remi!

Nggak cerita tentang kitab, substansi apalagi menghambur-hamburkan isi, tapi tulisan ini tentang seorang preman kampung, yang terkesan kèrêng, angkér, sangar tapi toh masyarakat merasa nyaman hidup bersamanya, sebut saja namanya cak hu’, preman kampung yang tiap malamnya begadang di ujung kampung, mungkin karena begadangnya itulah, warga merasa aman-aman saja menaruh barang berharga di teras rumah, termasuk motor, yang marak pencurian meskipun ditunggui pemiliknya ini.

Cak hu’ yang ringan tangan, memiliki senyum sehat, bertato naga di lengan kiri, dan bertato cewe’ cantik dilengan kanan, itu tato yang nampak jelas, sedangkan yang lainnya nggak bisa diartikan yang memenuhi hampir seluruh lengannya itu, menambah kesan sangar pada pemilik tato, disukai masyarakat sekitar tempat tinggal, karena ketika ada acara hajatan warga, entah kawinan, sunatan, atau sekedar selamatan dia selalu hadir untuk mendirikan terop (tenda, -red), membantu sinoman, dan begadang mele’an sampai pagi, tidak hanya itu saja seringkali acara peringatan Hari Besar Islam di Musholla kecil dia selalu hadir bersama-sama warga untuk sekedar menyiapkan dekorasi panggung bersama pemuda kampung.

Pernah suatu ketika acara hajatan, beliau lewat depan rumah, dan seperti biasa aku menyapanya dengan bahasa khas Nggrésik yang sudah saya terjemahkan dengan melihat-lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Mau kemana Cak Hu’?”, “eh ini lho mas mau mbelikan orang-orang kitab!, mau tahlilan mas”, entah guyon bernada sindiran, majas atau apalah yang jelas maksudnya adalah membeli beberapa pak kartu remi buat mele’an di acara hajatan tetangga. judi? entahlah, eh… iya, dulu mungkin, tapi beberapa tahun terakhir cuman dengan jepretan jemuran yang memenuhi telinga, hidung, leher sampai seluruh muka penuh, persis bak tempat cucian, bikin cekiki’an, yah ….plesetan cak hu’ yang mengusik pikiran.

Nah sodara, sebenarnya banyak cerita lucu dan kebaikan hati preman kampung yang nggak bisa saya ceritakan disini termasuk ketika saya menjahilinya ketika selamatan di musholla bersama ustadz kampung itu, tak selamanya preman sangar menyeramkan, tak selamanya kita yang mengaku suci, bersih lebih bejat dari cak hu’ yang terlanjur mendapat julukan preman kampung, tak selamanya preman perusuh, tak selamanya preman itu pungli, siapa yang pungli?, anda dan saya jelas mengetahui, aparat plontos berseragam yang sembunyi di balik institusi.

Membela premanisme? tentu tidak!, tapi membandingkan orang berpenampilan preman, ringan tangan, berguna, terkesan lusuh, sampah, tapi masih punya hati, kitabnya kartu remi, dengan manusia cakap, pintar, terdidik, berseragam, terhormat, tapi nggak punya hati, lebih bejat dari preman, inikah hasil produk sistem manusia berilmu dibalik nama IPDN?. Nggak perlu kecerdasan otak berintelejensia tinggi untuk memberikan penilaian, apalagi dengan jurus-jurus dari kitab suci.

Owalah… semakin nggak ngerti, kitab apa yang diajarkan para dosen IPDN disana, kitab apa yang menjadi tuntunan IPDN disana, saya orang yang subyektif menilai, yang jelas manusia-manusia produk kitab di IPDN lebih bejat dari kitab kartu reminya preman kami yang dibeli dari tokonya bulik rani. jadi, bacalah kitab remi sebelum anda membaca kitab-kitab koleksi anda yang lain.

Bukan menyarankan, toh anda dan saya manusia berakal, tentu bisa menilai, dan postingan ini terkesan hambar tidak berisi karena produk dari emosi, kegeraman hati sampai dengan hari ini, melihat kejadian di Institusi yang diharapkan lahir pemimpin negeri, yang dihormati di negeri yang kehilangan hati dan jati diri.

40 Responses to “Kitab Itu, Sekotak Kartu Remi!”


  1. 1 deking April 10, 2007 at 12:22 am

    tak selamanya preman sangar menyeramkan, tak selamanya kita yang mengaku suci, bersih lebih bejat dari cak hu’ yang terlanjur mendapat julukan preman kampung,

    Setuju Cak…
    Tetapi pertama kali kita melihat selalu dengan mata kepala…dan sayangnya jarang sekali otak kita menurunkan hasil pandangan mata kepala untuk diproses lebih lanjut di mata hati…

  2. 2 dnial April 10, 2007 at 1:55 am

    Yups
    Masih susah bagiku untuk melihat orang melebihi penampilannya.
    masih harus belajar banyak untuk melihat sisi positif dari seseorang.
    masih harus memperluas hati agar tidak tergerus kekecewaan saat pikiran positif kita salah.
    susah jadi manusia….

  3. 3 Ahmad Dzikir April 10, 2007 at 5:38 am

    Hemmm…. masih belum bisa nyerna nich…..

  4. 4 cakmoki April 10, 2007 at 8:09 am

    Usul cak peyek. Gimana kalo salah satu kitab wajib IPDN mborong di tokonya bulik Rani. Trus PKL nya dibimbing cak hu’ …

  5. 5 kangguru April 10, 2007 at 11:27 am

    Jadi kitab itu tidak membuat ringan tangan atau bagaimana???

  6. 6 n0vri April 10, 2007 at 3:42 pm

    Kitab yang diajarkan di IPDN sana jangan-jangan kitab silat golongan hitam… jadi main sikat seenaknya (maaf referensinya cerita silat, ingat masa kecil dulu) atau mungkin mesti diganti dgn dengan kitab kotak reminya Bulik Rani, seperti kata Cakmoki he he he…

  7. 7 mathematicse April 10, 2007 at 3:55 pm

    Kirain kitab yang dimaksud “Al Kitab” haha.. ternyata kartu remi… haha juga ahh

  8. 8 grandiosa12 April 10, 2007 at 3:57 pm

    tato itu seni

    *kabuuurrr*

  9. 9 Alief April 10, 2007 at 5:44 pm

    setuju cak.
    Btw, meskipun dengan kegeraman, tulisan ini tetap terasa obyektif dan mengena kok.
    Apalagi kalo gak lagi geram, wah tulisan sampean pasti malah sangar🙂

  10. 10 Luthfi April 10, 2007 at 5:50 pm

    bingung ….
    apa pengajiannnya pake remi?

  11. 11 zam April 10, 2007 at 7:07 pm

    kalo di istilah bloggernya, kang..

    DON’T JUDGE BLOGGER BY ITS TEMPLATE..
    😀

  12. 12 helgeduelbek April 10, 2007 at 8:29 pm

    kalau di IPDN kitabnya domino sambil mabnting mbanting gitu khan…

  13. 13 peyek April 10, 2007 at 9:36 pm

    @ deking
    wah anda lebih bijak mencermati daripada sekedar pandangan mata

    @ dnial
    yups! setuju dengan beberpa statement anda

    @ Ahmad Dzikir
    nggak perlu dicerna, jadi mules karena produk emosi diri

    @ cakmoki
    boleh cak, tentu lebih rendah hati tuh IPDN meski berbadan tegap

    @ kangguru
    kitab yg mana dulu kang!, kitab remi apa kitabnya IPDN

    @ n0vri
    kan bisa ditrial pake kitab remi sementara waktu

    @ mathematicse
    untung baca semua, klo ndak bisa salah komen!

    @ grandiosa12
    wah tato aja semua siswa IPDN biar pada nyeni

    @ Alief
    he..he… iso iso ae cak, gak koyok tulisane dosen cak, luwih ilmiah

    @ Luthfi
    mungkin, memang kitab mereka lebih suci dari remi mas? result?

    @ zam
    not by template, we judge them by their attitude *halah*

    @ helgeduelbek
    mungkin pak, kayak di tipi, lebih baik mereka dilebur jadiin asam sulfat atau pupuk lebih berguna pak

  14. 14 deedhoet April 11, 2007 at 8:31 am

    Yang penting kalo beliau lewat orang-orang nggak pada teriak ‘Huuuu…’

  15. 15 ..:X W O M A N:.. April 11, 2007 at 11:05 am

    tiap manusia mempunyai dua sisi, hitam dan putih… tapi kalau melihat kenyataannya “seperti telah kita lihat dengan mata kepala dan mata hati kita” justru para preman “yang katanya begundal, tukang onar, tukang bikin susah, dll yang telah disebutkan diatas” lebih punya hati. Bandingkan saja dengan para pamong praja, mendukung premanisme juga? ngga juga… tidak hanya rocker, dokter, guru, tapi preman juga manusia punya rasa punya hati jadi, jangan samakan dengan pisau belati😀
    Kerasnya fisik, garangnya penampilan, tapi hatinya bisa luluh kadang saking luluhnya kita tidak percaya “benarkah dia?”.
    Soalnya pernah ada temen kk ke rumah badannya tinggi, guede, item, kumisnya sampe nutupin bibirnya, rambut cepak, ngomong sangar, motor honda tiger, trus nangis di pangkuan ayahku karena punya masalah sama istrinya… itu kelebihan seorang yang dinamakan preman bisa bikin aku tersenyum… *lho kok jadi curhat sih*

  16. 16 agusset April 11, 2007 at 1:05 pm

    lho, IPDN itu bukannya singkatan dari Institut Preman Dalam Negeri?

  17. 17 indra kh April 11, 2007 at 2:11 pm

    Wajah kadang menipu. Ada orang yang wajahnya sangar namun hatinya baik. Tapi ada juga yang gaya perlente, hidup dalam lingkungan ekslusif dan konon segalanya teratur, tapi justru doyan mukul dan menyiksa adik angkatan.Puyeng mas @#$%^&**

  18. 18 peyek April 11, 2007 at 8:18 pm

    @ deedhoet
    apalagi kalo ada praja lewat

    @ ..:X W O M A N:..
    ya begitulah kalo manusia masih punya hati, tentu meski sangar masih bisa menangis, lain dgn mereka, tegap, gagah tapi nggak lebih dari sampah

    @ agusset
    iya, dan semua orang-orang yang terlibat dalam strukturnya tuh

    @ indra kh
    sama puyengnya mas, malah campur geregeten mas!

  19. 19 alle April 11, 2007 at 8:36 pm

    olala Pak,. dari awalaku nebak2 kemana larinya tulisan ini,.. ternyata MASIH nyambung ke IPDN juga tho,..
    duuh capek deh😀 hehehe…

  20. 20 Nur Aini Rakhmawati April 12, 2007 at 12:12 am

    sama kayak alle ..
    bingun awalnya
    eh nyambung ke IPDN

  21. 21 Hendra Ciptawan April 12, 2007 at 1:22 am

    IPDN sebetulnya lebih kejam dari yang disaji’in di TV-TV itu.
    Yang aslinya mereka diperlakukan seperti binatang oleh senior-seniornya.
    Nantinya sifat mereka bakal nurun lah secara otomatis waktu ngejabat jadi pemimpin daerah kelak.
    Sungguh memprihatinkan😦

  22. 22 mybenjeng April 13, 2007 at 2:15 am

    pancene guampang nyacat ueleke wong, tapi mugo-mugo (“insa awoh”) musti sek onok sing apik kok…

  23. 23 mardun April 13, 2007 at 3:34 am

    iseng nih, kenapa cak hu nggak “diresmikan” jadi hansip sekalian aja ya cak?

  24. 24 telmark April 13, 2007 at 9:38 am

    pengalaman saya, mas peyek (cak hu ?) justru premanisme bnyk kita dapati di instansi2 atau perkantoran2. contoh : dept. kehakiman dgn petugas Imigrasinya di bandara2. petugas dllajr utk masalah kir (sudah rahasia umum kan ?), dan masih bnyk lg. salam.

  25. 25 kikie April 13, 2007 at 12:21 pm

    subhanallah. memang benar kalau dibilang “jangan nilai dari penampilan”. meski susah untuk nggak demikian… apalagi di jaman sekarang, keamanan da nggak terjamin, jadi bawaannya curigaan terus ..

  26. 26 peyek April 13, 2007 at 2:46 pm

    @ alle
    lha saking geramnya

    @ Nur Aini Rakhmawati
    idem sama alle

    @ Hendra Ciptawan
    lha gitu kok diterusin apa nggak dubabarin aja

    @ mybenjeng
    bukannya generalisasi, tapi wis kadung gak percoyo blas

    @ mardun
    saking rendah hatinya kali jadi nggak mau memangku jabatan

    @ telmark
    sama-sama tahu, jadi memaklumi?

    @ kikie
    kadang kita terbalik yang perlente kita hormati tapi nggak tahunya bejat puol!

  27. 27 madsyair April 13, 2007 at 10:31 pm

    hati manusia siapa tahu. preman juga manusia. sama seperti pengalaman saya, waktu berangkat kuliah,saya pernah dipalak. uang saya cuma 10 rb. terpaksa saya kasihkan uang itu. tapi saya minta kembalian(kok kaya beli),buat ongkos pulang. eh dikasih 1 rb. lumayan.

  28. 28 mbah keman April 14, 2007 at 12:10 am

    Mua tau seremnya simbah….. tapi hati simbah selembut wanita surga… nonton film nagabonar 2 simbah bisa mrebes miliii

  29. 29 jokotaroeb April 14, 2007 at 10:32 am

    Preman…. juga manusia makan nasi minum air he…
    Preman cuma tampangnya aja serem padahal dibalik hati kecilnya ada kebaikan.

  30. 30 Evy April 15, 2007 at 7:44 am

    Mungkin kitabnya kitab hitam yang tadinya sudah di amaankan di shaolin temple tapi hilang di curi …😦

  31. 31 peyek April 15, 2007 at 10:48 am

    @ madsyair
    kalo preman institusi pasti tanpa kembali

    @ mbah keman
    tenane mbah? brebes mili opo kelingan pacare simbah mbiyen?

    @ jokotaroeb
    setuju mas

    @ Evy
    mungkin bu dok, satpame ketiduran paling mbak

  32. 32 guss April 15, 2007 at 5:43 pm

    sisi lain.. setiap yang tercipta dari kuasaNya tidaklah sia-sia..
    preman sekalipun,
    toh preman dengan segala atributnya adalah justifikasi dari manusia yang menganggap dirinya lebih “normal dan beradab”.. sedang sesungguhnya tiada yang pernah tahu kedalaman hatinya, dan hidayah yang tersembunyi

  33. 33 venus April 16, 2007 at 7:00 pm

    wis wis, pokoke ngene ae… engko nek petisi ‘bubarkan ipdn’ wis dadi, ojo lali melok tanda tangan yo, cak. suwun🙂

  34. 34 bluedee April 17, 2007 at 12:33 pm

    bener tuh…jangan menilai orang dari penampilannya tapi dari tingkah laku perbuatannya.

  35. 35 peyek April 17, 2007 at 7:51 pm

    @ guss
    setuju banget mas

    @ venus
    kandanono mbok!, pengen dadi nomer siji!

    @ bluedee
    kebanyakan dari kita menghormati orang dari penampilannya

  36. 36 syifa April 21, 2007 at 5:56 pm

    tapi yo tetep serem mas, aku nek ketemu wong ngono kuwi ning ndalan yo milih kabur… but, aku pernah dengar tentang riwayat para ulama jaman dulu yang mereka lebih suka melihat orang munafik pergi ke masjid, dari pada orang baik hati yang berpenampilan buruk. aku tetep setuju kok dont judge the book by its cover.

  37. 37 aji April 22, 2007 at 3:37 pm

    Istilah dari tukul “don’t look the book just from the cover”
    ngono kali cak… Tapi bagiku, alangkah baiknya kalau orang seperti cak hu menjadi tidak dipandang seram lagi alias bener- bener bawa kitab suci dan mempelajarinya.

  38. 38 peyek May 1, 2007 at 12:00 am

    @ syifa
    ya ngambil pelajaran dari para ulama

    @ aji
    ya mudah-mudahan begitu kan mas

  39. 39 reeyo November 22, 2007 at 1:54 am

    Nah sodara, sebenarnya banyak cerita lucu dan kebaikan hati preman kampung yang nggak bisa saya ceritakan disini termasuk ketika saya menjahilinya ketika selamatan di musholla bersama ustadz kampung itu, tak selamanya preman sangar menyeramkan, tak selamanya kita yang mengaku suci, bersih lebih bejat dari cak hu’ yang terlanjur mendapat julukan preman kampung, tak selamanya preman perusuh, tak selamanya preman itu pungli, siapa yang pungli?, anda dan saya jelas mengetahui, aparat plontos berseragam yang sembunyi di balik institusi.

    berarti definisi preman iku kudu di ubah cak, penampilan opo kelakuan? kan sekarang akeh tampang preman hati cinderella hahaha


  1. 1 nurani publik « paper.cup.exit Trackback on April 13, 2007 at 5:18 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Tentang Diri

Biasa saja, dan ini adalah tempat ketika isi kepala mulai enggan mengingat. Silahkan tinggalkan pesan anda disini

Recent Comments

Apotek Munggu Farma on Gresik Di Linimassa
Apotek Munggu Farma on Gresik Di Linimassa
Sakinah Arifin on Masa Tua
bisnis susu on Saujana
Phil on Budaya Ngopi!

Kunjungan

  • 137,145 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</


%d bloggers like this: