Gresik bukanlah kars, sebuah kota peradaban yang berada di salah satu negara perbatasan antara Eropa dan Asia, tempat jelajah panjang Ka menyisir nostalgia masa lalunya, ka, seorang tokoh yang dikisahkan dalam Snow-nya Orhan pamuk itu.
Kars, saya membayangkannya sebagai sebuah kota yang dingin, salju menutupi jalanan, kedai-kedai teh menjamur di setiap ruas jalan, pemuda nongkrong, persis seperti deskripsi panjang tentang kota Kars itu sendiri, dan Kars semakin terkesan sebagai sebuah kota horor dengan pergolakan politik dan banyaknya kasus gadis berjilbab yang bunuh diri.
Dan Gresik, kota panas berdebu, laki-laki tua muda yang memenuhi warung kopi berderet bersama secangkir kopi dan sebungkus rokok, tapi satu yang saya kira mirip, ia mencerminkan kegelisahan manusia diatasnya, kegelishan yang saya tak tahu atas apa. Bisa jadi kedai teh di Kars dan warung kopi di Gresik adalah sebuah pelarian, pelarian dari rutinitas keseharian yang menjemukan tapi sehari-hari.
Pelarian ke warung kopi di Gresik dan kedai teh di Kars menjadi sebuah pemakluman, setidaknya orang rumah merasa aman.









</
Komentar Terakhir