“jamput!, Kenapa kerjaan semakin hari kok semakin rumit dan tidak ada habisnya, lha orang kayak kita kapan bisa kerja santai mas, mestinya tambah usia kerjaan itu bukannya semakin ringan?, kapan saatnya kita menikmati hasil kerja kita itu mas?”.
Saya bukan orang yang berkemampuan untuk menjawab, apalagi saya ini bukan pemilik pabrik, mungkin saja akan berhenti sendiri setelah cacing perut yang kita pelihara selama bertahun-tahun itu pada males nggiling lagi.
“Lah apa kita mau seterusnya begini mas?”, waduh, sayapun ndak tahu kapan saya begini terus, ndak pernah tersinari matahari pagi dan ndak pernah melihat yang namanya sunset, entah, sekarang tenggelam di barat atau sudah berubah arah, sudah ah jangan menambahi keluhan saya dengan keluhan sampean mas, lebih baik kita kerjasama saja, sampean mengerjakan kerjaan sampean dengan sabar dan kerjaan saya sampean yang mengerjakan dengan sabar pula, biar ndak bosen, gimana mas?.
“Hancurit!, lah wong kita ini sama-sama buruh from seven to five!“









wah ak senang pisuhan terakir itu. hancurit wakawkwkwkwk teringat masa kecil dulu hehe. tenang pak. ada saatnya kelak jd bos ngerjain bawahannya haha
dobol…
dipisuhi terus aq…
hancurit iku artine opo seh ??
wah pisuhan anyar ki
Kadang suka muncul perasaan semacam itu, cak. Kok kerjaan gak berhenti2. Tapi mungkin akan lebih stress kalau gak ada kerjaan dan gak ada penghasilan.
sesama bus kota dilarang menghina..
hehehehehe
maksudnye sesama pegawai yaaah saling mem-back up laaah..
biar tetep semangat kerja..!
ah, saya bukan seven to five workers, tapi eight to four workers.
tapi sesudah itu lembur sampai mampus…
apalagi ditambah sedikit workaholic….
*ngeluh juga*
santai itu kalo sudah mapan. mapan menurut kang shobary di koran tempo berarti; meneng, turu, mandheg.
jadi kalo ada orang yang sudah dianggap mapan dalam materi (pekerjaan) maka orang tersebut sudah tidak perlu lagi untuk bergulat dengan pekerjaan untuk mencari mater lagi, karena dia sudah berkecukupan, rezekinya sudah mentok, gak perlu duwit maneh, pendek kata dia sudah boleh ber”santai”.
kalo anda belum mapan yaaa jangan berharap untuk bisa ber”santai”, karena hidup anda akan terus dibayangi kejaran materi (pekerjaan).
atau kalau mau sombong-sombongan, kita adakan konvensi bahasa untuk mengganti arti dari kemapanan dengan arti “silahkan santai sebelum tanah kuburan menyumbat mulut anda”
sepurane komentare, maklum nongkronge ndek warung kopi cak, dadi kebiasaan nggawe komentar ala warung kopi.
bukankah hidup adalah utk bekerja? cuma brgkali cara kita memandang sbuah pekerjaan; sbg rutinitas yg dipaksakan, atau sbg wadah kreatifitas. so, bekerjalah utk sebuah karya cipta *lali aq sopo seng omong
*
Lha? Itu artinya mati kan ya?
Disabar-sabarkan saja….
*saran yg naif sambil tes avatar*
yah gitu deh namanya pekerja
kecuali kalo mempekerjakan orang, bisa bebas deh kita yang ngatur
sabar ya mas…
ayo semangat !!
dah, pindah level aja. moso 7-5 terus? upgrade pake mouse
nikamatilah selagi bisa menikmati hehhe
pagi itu indah lho
Saya lebih memilih, sulit mengatur waktu karena banyak kerjaan, daripada kebanyakan waktu karena menganggur.
Jenjang masa kerja makin lama, gaji makin besar, tanggung jawab makin berat…situai kompetitif dan situasi global membuat kita harus mencari terobosan baru, teknologi juga berubah terus, dan konsumen makin menuntut atas kualitas barang dan harga yang kompetitif.
Yang penting adalah bagaimana kita membuat menjadi orang yang tangguh, tahan menghadapi stres…percayalah ada hadiah manis dibelakangnya
mending ah buruh seven to five….gimana kalo seven to eight pm kadang malah bisa seven to subuh…kekekekeke