
Saya suka melihat mereka beraktifitas, ini hanya salah satu contoh saja, tetapi kesukaan saya itu terasa hambar ketika aktifitas mereka ditujukan hanya untuk mnyambut kedatangan rombongan pejabat dari Jakarta hanya untuk meresmikan sesuatu didaerah.
Tidak ada yang salah, event untuk tampil dan unjuk kebolehan memang terbatas bagi yang tinggal didaerah kecil, tapi sisipan, tumpangan, dan entah apa istilahnya, itu yang menjadi pertanyaan, bukankah didalamnya mengandung ajaran?
Dengan dalih sambutan dan untuk memberikan penghormatan kepada pejabat, tanpa terasa ajaran itu akan tertanam dalam benak mereka, artinya, pejabat itu harus dihormati dan disambut dengan meriah.
Salahkan jika pejabat datang tanpa sambutan? agh… iya, saya memang ndak paham ceremonial begituan.









Gak banget mas, di ITS TK Sepuluh Nopember juga ada semacam gitu, mereka lucu2, tp bwt diikutkan lomba…
Nggak saja mas… sama-sama manusia kenapa harus sebegitunya, biasa sajalah.. selayaknya orang biasa saja, yang datang dan pergi secara biasa bahkan ketika di kuburpun biasa saja, semua biasa saja. Penghormatan dan sambutan itu adalah belenggu yang dikalungkan ke leher mereka sendiri, kenapa hidup harus disodorkan kepada tingkatan strata, kedudukan, jabatan atau seabreg lagi status duniawi. Kenapa rela menjadi budak tawanan dari persepsi sendiri tentang status orang lain?…
mungkin bukan harus tadpi merupakan sebuah kebudayaan
sepakat mas. tak perlu berlebihan menghormati. cuman susah kali ya ngilanginnya. apalagi pejabat konvensional yang nyaris semua merasa lebih nyaman di hormati. haha
Kalo kunjungan pejabat cuma sekali setiap sepuluh tahun, saya pikir gpp koq untuk disambut. Tapi kalo tiap hari berkunjung .. capeee deee hehehe kapan kerjanya ya??
Sama hal-nya .. ketika kita ke rumah keluarga atau tetangga. Kalo kunjungan kita itu setahun sekali .. pasti kita disambut dengan berbagai macam jamuan dan panganan.
Nah, kalo tiap hari kita kerumah mereka. Ga pagi, ga siang, ga malam .. akhirnya, kita sudah dianggap keluarga dalam rumah. Dan ketika kita datang, mereka tetap sibuk sambil berseru : “Ambil sendiri ya.” hehehe ..
Menurut saya nggak ada yang salah kok…. cuma ya itu…. perlu diluruskan sedikit. Orang bilang (walau terdengar sangat klise) ambil saja hikmahnya.
Masih untung mereka bisa diberi kesempatan untuk memperlihatkan kreativitasnya walaupun hanya untuk menyambut para pejabat.
Pejabat diberi penghormatan?? Saya rasa wajar juga, asal tentu saja itu untuk pejabat yang bersih, pejabat yang tidak memikirkan dirinya sendiri dan lain-lain. Hal itu tentu untuk menghormati tamu. Presiden kitapun kalau di luar negeri tentu kita berharap juga akan dihormati oleh negara tuan rumah. Jadi, yah, sebenarnya wajar2 saja.
Tapi kalau pejabat yang benar2 korup?? Hmmm…. kayaknya memang kurang cocok sih disambut pakai parade drumband…. cocoknya memang disambut pakai parade demo!!
saya dukung..!!!!
pokoknya klo saya main ke kota anda…minimal sambutannya seprti itu….
drpd duit di korupsi.,..mendingan duit buat sewa oragan tunggal buat nyambut saya…kekkeke
*siap2 di sambit*
ggak papa disambut, biar kita juga ada kegiatan sambut menyambut heheh asal gak tiap hari aja…bisa gempor
tradisi yang susah diilangin cak.
kemarin tempat saya juga ada kunjungan, di surat secara resmi sudah dikasih NB:tanpa seremoni!
eh tetep aja dikasih sambutan hiburan plus makan siang, walaupun tamu datangnya menjelang sore…
btw pic nya boleh juga tuhh *kaburrrr
*
khan sudah termasuk budaya ya
waktu aku masih di SD dulu juga begitu, sekarang juga masih begitu
dan budaya itu nggak mudah menghilangkannya 
hmm…sebenernya ga masalah juga klo menyambut pejabat
Selain karena sudahn menjadi budaya,mereka kan (seharusnya) adalah wakil rakyat yang mengayomi rakyat, jadi wajar klo dihormati, soal kenyataan banyak yang menyimpang ya itu soal lain
klo yang seperti itu patut disambit pake batu..hehe
asal mereka dibayar sih ngak apa2
hhehehe
*ngacir*
Pejabat dateng, warga ngumpul, maka massa menjadi tumpah-ruah…
lalu itu adalah klimaks audiens yang potensial menyaksiken perhelatan kesenian..
banyak yang nonton, keluarga bisa liat, adek jadi bangga liat kakaknya…
asyik, to?
Lha kapan mereka dapat tampil? Yang penting ada kesempatan buat anak-anak memamerkan ketrampilannya.
Saat kecil dulu, saya sangat bersemangat latihan menari kalau ada rencana mau “gebyakan” (istilahnya tampil pada acara tertentu). Jadi saat anak-anak saya masih kecil, agar mereka bersemangat latihan piano, saya suka menyelipkan di acara kemahasiswaan atau acara lain. Dan untuk piano, keuntungannya sering ada konser, bisa di Mall, gedung kedutaan dll.
Yang penting adalah jangan sampai berlebihan, karena mereka juga perlu belajar.
podo karo diriku mas
sama gak negrti maksud yg begituan
ah sisa siaa budaya ‘ ambtenaar ‘ jaman kolonial…
klo menurut saya, mending energinya dimanfaatkan untuk aktifitas lain yang lebih bermanfaat. jangan2 yang beginian yg bikin ina ga maju2. banyak aktifitas ga penting
saya juga pernah merasa sangat bangga sekali ketika diminta menyambut pejabat
entah, rasanya ada kebanggaan tersendiri saja
beda sama sekarang…
ngapain juga disambut wong kerja mereka belum tentu semeriah dengan sambutannya..
buang2 uang aja.. tapi kalau nggak ada kerjaan begitu.. khan nggak bisa krikit duit donk.. kalau ada kerjaan .. jadi ada uang masuk donk..
asal gak pakek proyek-proyekan dan gak make uang rakyat secara percuma…
lho kalo sambutannya baik pejabatnya terkesan kan baik juga buat mereka…???
ini kan hanya salah satu bentuk penjilatan… tidak ada yang salah saya rasa… toh juga demi kebaikan mereka sendiri….
Semacam menanamkan pengaruh bawah sadar yang akhirnya terbawa dalam kehidupan mereka nantinya ya, Kang?
Sayangnya, di masa sekolah dulu ndak ada yang ngasih tahu saya bahwa bisa demikian ‘merusak’ efeknya seremoni-seremoni demikian
hahah ngga ada yang salah ko, namanya jg orang tinggi, wajib dihormati. masa sama guru di kelas kita anggap seperti teman? ngga mungkin kan?
disisi lain jg ya…klo ngga dihormatin, takutnya jatah sembako kampung itu berkurang bahkan ngga ada lagi :))
Mungkin karena udah banyak pejabat yang kemudian berubah menjadi ‘penjahat’ - itulah kenapa banyak rakyat yang apatis -apalagi harus pake disambut bak arak2an ondel-ondel
At least kita merubah diri dulu aja sembari perlahan pasti kita rubah lingkungan..
Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari Afrika Barat
————–
PS: Ohya, Warung yang lama ini akhirnya kembali di buka, setelah lama di tinggal mudik.
kl soal myambut pejabat pejabat gt, mmg byk seremoni special..
so, tdk heran..
saya juga ndak setuju kalo pejabat disambut,,sedihnya lagi kalo mereka datang sukanya PKL digusur untuk beberpa hari..
mbok sekali-kali pejabat dari jakarta di sambut penari erotis.. ha..ha..ha..
pejabat kan orang penting mas, jadi mereka butuh disambut, butuh dihormati..kayak gitu lah..
Tapi kalau pejabatnya sering banget berkunjung gak apa2 kok cak, biar mereka juga semakin sering tampil dan semakin mahir
Di negeri tercinta ini, kepatuhan dan sikap hormat lebih penting daripada kelebihan apapun yang Anda miliki selain kekuasaan. Sabar, sabar.
Btw buat yang berminat aku baru saja memposting artikel :
http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/04/23/negara-tidak-berhak-membubarkan-ahmadiyah/
Ngak salah, Sarkozy aja sering dicela!
Pejabat mau nglencer ke daerah itu ada bagusnya dan ada manfaatnya, lihat aja, pekan lalu ketika pak SBY pergi ke Sidoarjo, jalanan langsung diperbaiki, nggak perlu ada komplain dulu dari masyarakat ttg rusaknya jalan. Gimana, kalo Pujasera2 di Gresik mau cepat selesai, undang aja pak SBY dan JK untuk nyangkruk dan ngopi bareng, pasti gak sampe seminggu Pujasera akan kembali fresh lagi, dasar bawahan emang suka gitu (ABS; Asal Bapak Senang).