Dari sini, apa yang menarik ketika dua kubu saling berhadapan, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dirugikan, adakah yang akan tampil sebagai penengah seperti layaknya cerita-cerita kepahlawanan, atau malah berakhir dengan siapa yang menang dan siapa yang akan dipermalukan.
Saya jadi ingat, seseorang pernah mengatakan sewaktu riuhnya partai-partai yang seolah menjajikan kearah perubahan yang di idamkan, seakan-akan pilihan kesana adalah satu-satunya jalan menuju pencapaian bagi pemeluk religius terbesar itu, “ingat!, ini adalah keriuhan sesaat, layaknya mainan, boleh saja mereka mengistilahkan pesta demokrasi, pilih saja sesuka hati, setelah itu segeralah kembali, kemana kita setelah ini”.
Sampai muncullah istilah partai Islam gurem, analogi tentang ayam dan telur, sampai apa yang keluar dari brutu ayam itu.
Ternyata ajaran tentang keadilan, kebenaran yang hakiki terhenti cuman disini, lalu dimanakah sampah ukhuwah dan moral yang telah diajarkan, sudahkan dia benar-benar berada pada sudut yang tak lagi bisa dijamah & diagungkan.
“Ah.. halah, ayo ngopi wae! menonton, bagaimana mereka saling lempar anak panah & bukankah itu jauh mengasyikkan”, yo wis lah!.









ahhh ujung-ujungnya jg rekonsiliasi cak
mereka ndak tahan diam terus, harus diselingi dengan keriuhan dan kegemparan. itu sifat hakikinya bokong politisi, bakalan panas kalo cuma rukun2 aja
wah..seru tuh…
*melihat peperangan*
politik lagi ya…
gak terlalu seru. soalnya perangnya gak pake pecut
kebanaran macam apa pun kalau sudah dicampur aduk dg masalah politik, akhirnya jadi, kacau, cak. mestinya, tokoh2 yang seharusnya jadi panutan itu mesti kembali kepada “khittah”-nya sebagai “guru bangsa”, ndak usah ikut2an permainan politik yang rentan konflik itu.
paling enak jadi penonton, bebas komentar, bebas nyela
bebas gak peduli, dan gak kepikiran
alhasil hidup tenang
hohohoho
setuju dg pak sawali
bakal kacau berat nih…
nyeduh kopi tubruk, ngambil pisang goreng, duduk di kursi goyang, nonton sandiwara politik negeri ini yang kelihatannya akan jauh dari ending *happily ever after*…
yo wong cilik ojo melok-melok lah…
urip wae sing guyup rukun, sregep luru pangan sing halal…
GITU AJA KOK REPOT…. (???)
Saya memang tak pernah memahami politik……
Nanti juga akan adem lagi….
Wah, repot juga kalo terjadi perseteruan seperti itu.
bukannya moral udah jadi komoditas ?
Begitulah politik, ceritanya tiada akhir. Kadangkala berbagai macam acara dilakukan untuk memenangkan percaturan politik. Namun politik yang positip (ada ngga yah?) diperlukan untuk membangun negara ini. Semoga pemilu di daerah2 yg segera tiba, dapat berjalan dengan baik.
Mungkin kita selalu merasa paling benar pak .. sehingga, bagi kita orang lain adalah salah dan tidak pantas. Sehingga kita mempertahankan keyakinan kita.
Eala .. ternyata orang lain juga memiliki paham seperti kita. Merasa bahwa mereka yang paling benar, dan kita yang salah dan tidak pantas. Sehingga mereka mempertahankan keyakinan mereka.
Kalo sudah begini .. wajar koq pak .. terjadi perseteruan. Sama-sama merasa benar dan ga mau kalah
soalnya kalo mengalah, pasti dianggap ga bener. Cape deee …
Halaah… namanya juga politisi mas! Kerjaannya apa lagi kalo nggak memecah belah umat! Di belahan bumi manapun kerjaan politisi selalu sama, memecah belah masyarakat untuk kepentingannya sendiri!!
Assalaamu ‘alaikum…
Politik bisa bikin buta mata hati siapa saja. Ini pengalaman saya kemarin, hari kamis 10 April 2008.
Ceritanya, saya diundang untuk memberikan ceramah di salahsatu kota di Jawa Barat.
Ada yang agak aneh dan menggelitik saya. Setelah selesai memberikan ceramah, saya baru tahu setelah diberitahu oleh pak Camat, bahwa di belakang tenda untuk mustami’in ada beberapa anggota DPRD dari 2 partai tertentu. Saya heran, kenapa para anggota DPRD tersebut tidak duduk di depan bersama jajaran pemerintah daerah dan tamu undangan seperti biasanya, atau setidaknya duduk di tenda yang telah disediakan oleh panitia.
Usut punya usut, para anggota dewan tersebut memang tidak diundang secara khusus, karena memang acaranya terbuka untuk umum. Dan panitia penyelenggara tidak memandang perlu secara khusus untuk mengundang anggota dewan.
Ternyata, beliau-beliau datang dengan tujuan untuk “memastikan” bahwa pengajian dalam rangka memperingati maulid Nabi SAW tersebut tidak dijadikan sebagai ajang kampanye salahsatu kandidat cagub/cawagub Jawa Barat. Bahkan, secara khusus mereka “memerintahkan” petugas sound system untuk merekam isi ceramah saya.
Busyeet… Kalau mereka datang untuk mendengar ceramah saya yang alakadarnya, saya bersyukur. Lha ini… datang karena curiga…
*geleng-geleng kepala*
politik.. ribetnya…. cari untung sendiri2
masalah politik ma cempluk mending diem,,daripada salah..hehehe
aku ra mudheng politik, tapi kalo di ceritain bojoku soal politik yo seneng ae. sambil ngowoh: oooooo…oooooo…ooooo ngunu yo…
Iya, kayaknya partai-partai di Indonesia perlu ditreatment lagi, biar jadi kayak partai-partai di Amerika Serikat atau gak jauh-jauh seperti di Malaysia…
Ikut NGOPI…
Neh sekalian aku bawa kripik singkong…
sambil mengamati, mencermati….
Hiks… gak jauh beda sama JANGKRIK yang rebutan lubang..
Halah…PLOITIK…jenis makanan apa yah…
NgOopi?HAYOOOO..kapan?dimana?