Tak seorangpun bisa mengelak tentang hebatnya perjuangan seorang ibu, demikian juga dengan saya, tidak bermaksud menentang sampean, saya juga tak bermimpi untuk membalasnya, karena bagi saya hal itu ndak akan pernah bisa dilakukan.
Bu, saya tahu engaku sudah terlalu banyak melewati asam gram kehidupan, dan sekarang saatnya engkau menikmati hari tua, anak-anakmu yang telah engkau bekali dengan pengetahuan, moral, bahkan agama yang cukup ini telah mampu mandiri, telah mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, dan telah lama mampu mandiri secara ekonomi, termasuk menanggung segala kebutuhanmu di hari tua, dan juga memberangkatkanmu ke tanah suci itu, yang lama telah engkau mohonkan lewat do’a dengan tetesan air mata disetiap sujud malam mu itu.
Tapi tahukah engkau wahai Ibu, aku mendapatkan semuanya dari hal yang engkau pertentangkan dulu, dari apa yang mestinya tidak aku lakukan, seperti ajaran-ajaran yang telah engkau dongeng kan menjelang tidurku. Bu, aku masih saja menerima penghasilan kotorku itu, dengan mata tertutup, entah tega atau tidak, aku terus meracuni mu dengan penghasilan kotorku. jangan tanya tentang ibadahku, karena aku masih menjalaninya hanya sebagai ritual kewajiban.
Maafkan aku Ibu, inilah caraku bertahan diposisiku, instan, kompromi, pelicin, menjilat, dan saling adu sikut, tapi inilah satu-satunya cara yang memaksaku bertahan, dan demi untuk membiayai semua kebutuhan itu, jika tidak demikian, tahukah engkau bu, aku bisa kehilangan semuanya dan disalahkan, jika kebenaran yang aku bela, jika kepatutan yang aku anut, jika hati nurani yang aku suarakan, maka mereka akan mengatakan, “kesalahanmu terbesar, adalah karena engkau berada di kebenaran, karena kau tak mau menerima yang ndak jelas seperti apa yang telah kami terima” pernyataan mereka cukup tegas, dan aku tidak mau kehilangan penghasilan, yang dari pengahsilan itulah aku menanggung semua beban hari tuamu itu.
Bu, aku tahu, sampai kinipun engkau belum tahu, darimana semua itu kudapatkan, berdoalah bu, jangan hentikan kebiasaan bangun malam untuk menangis dan sujud itu, mungkin itulah yang bisa menawarkan racun, yang tiap hari aku berikan untukmu.
Ibu, telanlah kembali aku diharimu ini kedalam rahimmu itu, dan jangan engkau pernah melahirkanku kembali, sebelum maafmu engkau berikan, bagaimanapun engkau adalah ibuku, yang telah melahirkanku, selamat bu.
ps : Buat Ibu Pertiwi, yang telah banyak melahirkan koruptor di negeri ini!








</
Ungkapan dan pernyataan dalam postingan ini memang selayaknya disampaikan oleh para koruptor yang tak henti-hentinya menilap uang negara dan rakyat. Sayangnya, jangankan mengungkapkan pernyataan penyesalan, diuber-uber hukum saja masih bisa berdalih macam2. Repotnya lagi, mereka justru merasa bangga apabila sanggup keluar dari jerat hukum. Naudzubillahimin zalik. Koruptor memang sudah saatnya dinyatakan sebagai “public enemy”, musuh bersama, agar ibu pertiwi yang telah melahirkannya tak akan menyesal dari generasi ke generasi.
*
*sempat terkejut dapat pink balik, hehehehehe
mmmhh..speechless deh kalo ngomongin tanah tumpah darahku ini…
they’re someone’s sons..
selamet hari emak
kok hari bapak nggak ada ya?
emak, simbok… aku mau “memensiunkanmu” agar tak cari duit lagi buat makan, tapi kok ya blm bisa rutin ngirim ya kekkekekekk
Dalem..mukul..telak..hemm..
yaiks…
seandainya mereka membaca ini…
sayangnya, sepertinya mereka nggak ada waktu buat baca ginian ya?
jangan salahkan ibu pertiwi dong…..
ibu pertiwi tidak salah tetapi orang yang melahirkan dan mendidiknya lah yang salah menurut gua….
wahai ibu pertiwi siapa suami mu?
Seringkali kita membuat ibu menangis tanpa kita sadari, namun beliau tidak pernah lupa untuk memaafkan kita.
ibu sosok yang paling dominan rupanya, mungkin karena kita lebih sering bersama beliau sehingga sosok ayah kadang terpinggirkan. saya mau lebih sering bersama anakku supaya nanti mereka juga mengerti bahwa ayahnya juga mendukung setiap langkahnya
masa sih kang peyek minta ditelan lagi.. dalam rahim sang ibu…
ini apakah berarti bahwa alam dunia itu kalah damainya dengan alam rahim yaa kang ?
@ Sawali Tuhusetya
iya pak, memang satu hal yang disayangkan itu adalah tak satupun diantara mereka itu yang sadar akan hal seperti ini, serasa semua hanyalah riak-riak kecil, masih saja ada anggapan ketidak mampuan kita untuk bersaing
@ icha
lha terus mau ngomongin apalagi ya mbak? hehehehe… mungkin ini adalah salah satu bentuk kepedulian
@ venus
Hmmm… gitukah?
@ iNyoNk
lha segera diproklamirkan, seperti ada bapak blogger, tapi ibu blogger belum ada, kira-kira sapa ya mas?
@ kw
agh… sampean suka-nya merendah mas!
@ stey
mosok mas….
@ Mrs.Neo Fortynine
yo wacakno po’o? hehehehe…
@ dodot
lha yang melahirkannya sapa?
@ imcw
bener dok!
@ Totoks
setelah blogger teladan, ternyata sampean ayah teladan? hehehehe… iya mas!
@ kurtubi
nah.. dunia kita sekarang ini kan begini kang? tanpa kepatutan, semua diblejeti habis tanpa sisa, sepertinya begitu kang!