Judulnya sih Staff Meeting tapi entah kenapa kok bobotnya berubah tentang orang-orang top level menajemen yang suka marah-marah secara estafet itu. lha bagaimana tidak estafet, bibitnya mungkin berasal dari atasan yang marah sama bawahannya, para manager, lha manager ke supervisi dst, lha yang terakhir tibalah ke para jongos yang tak tahu mesti dilempar kemana lagi.
Bagi sebagian orang mungkin tongkat estafet itu akan dibawa lari pulang dan sebagian hanya bisa ngomel kadang dengan misuh-misuh sampai keringetan.
Saya jadi penasaran, kenapa mereka marah ketika ada sesuatu yang tidak beres, jadinya kok seperti kembali ke kanak-kanak lagi, mereka punya hak buat lempar apa saja yang ada dimeja, persis kayak anak-anak kita melempar semangkuk nasi dan piring serta menghamburka-hamburkan isinya ketika mereka enggan untuk makan.
Atau kebiasaan one man show itu yang menjadikan mereka marah dan ketakutan sama si bos karena pekerjaan yang nggak segera terselesaikan. Jadinya bawahannyalah yang menjadi semprotan dan sejuta makian enak tanpa balas.
Semua punya hak buat marah, itu manusiawi, sebagai pelepasan adrenalin yang diproduksi oleh hormon adrenal kita, marah itu sehat!, iya saya setuju, tapi mbok harus tepat sasaran dan dengan alasan yang tepat, gimana kalo marah itu salah sasaran, wah bisa kepoyo dan semaput kan?
Ahhh… kadang sampai mendengar ungkapan sebagian dari mereka, kita ituh digaji untuk dimarahi. Heh!!!!
Iratus semplar plus putat posse facere quam possit.
The angry man always thinks he can do more than he can.
¤ Albertano of Brescia, Liber Consolations ¤
Anyone can become angry — that is easy, but to be angry with the right person, to the right degree, at the right time, for the right purpose, and in the right way — that is not easy.
¤ Aristotle ¤










pertamaX
Hukum kekealan energi: “energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan melainkan hanya akan diubah menjadi bentuk energi yang lain”
Jadi kemarahan sebenarnya merupakan perwujudan dari perubahan energi. Nah yang menjadi sangat penting adalah bagaimana mengubah energi marah tsb menjadi bentuk energi lain yang positif.
Pertanyaannya, kenapa tradisi marah estafet itu kok seringkali terjadi dimana2 ya mas?
Yang pasti c kalo saya, langsung cari jalan aman aja… tengok kanan kiri trus ngilang nggak balik-balik, he.
*kelebihan jadi markentir, bisa ngilang kapanpun juga*
Atau warisan dari perpeloncoan di kampus, mungkin? Yang muda
yang tak dipercayaatau yang lebih rendahan mesti rela ketiban sial??Don Juan maksudnya?? hwehwehwehwe
Lha biasa mas…
jadi luar biasa kalo estafetnya dibalik, kita marah-marah ke atasan, terus atasan melanjutkannya ke atas lagi…
kirain cuma lari aja yg bisa estafet
itu sih biasa mas… yang ga tau apa-apa juga suka kena getahnya.
lempar balik aja ke manajernya pak hi…hi…hi…
jadinya main lempar lemparan tongkat nih ceritanya, gak sekalian aja dibikin main voli…
salah satu cara melepaskan stress selain tertawa lepas adalah marah mas…sayangnya keseringan marah juga bisa memperpendek umur dan mempercepat kepikunan…
saya juga lagi misuh-misuh nih karena dedlen. dan entah kenapa saya bagikan misuh-misuh ini huehehehehe
Jongos macam saya kalau marah2 ga ada lagi objeck pelampiasan kecuali saya tumpahkan ke Blog cak. ga ada yang sakit hati, nda sama dengan mereka yg kelakuannya pecis kanak2.
sayangnya tradisi estafet kemarahan itu selalu dari bos ke anak buah, nggak dari anal buah ke bos..
wups, anak buah maksudnya cak…
mau nyoba ah marahin bos
Yang pasti, bos yang marah ke anak buahnya. Biasanya yang suka buat revolusi itu adalah anak buah yang suka marahi bosnya.
No komen. lha saya, bahkan semua (termasuk mas Peyek) pasti suka melakukan atau minimal pernah kan ?
*hayo ngaku*
top level management tidak selalu sama dengan top personality lho mas.
@ vino
satu-satu kan? hehehehe
@ deKing
setuju mas, sayangnya banyak yang nggak tahu caranya
@ undercover
jadi cari aman-nya tho mas?
@ alex
wah lebih dari warisan dari kampus mas, bisa jadi warisan dari bayi hehehehe
@ Anang
ah… anda lebih paham
@ n0vri
belum sempat marah, dah dibilangin besok nggak usah kembali mas, hehehehe
@ xwoman
wah jadi dimaklumi tho?
@ anggara
lha gimana dari sisi hukum tuh mas?
@ ndarualqaz
kalo ada hadiahnya nyenengin, kalo enggak bisa disuruh pulang nggak usah kembali hehehehe
@ imcw
jadi ditahan mas?
@ cK
wah bagi-bagi dong gimana misuh-misuhnya Ck!
@ Sugeng Rianto
bisa jadi blognya berisi pisuhan mas?
@ macanang
kira-kira kapan sesekali dibalik?
@ kangguru
wah..resiko ditanggung sendiri kang!
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth
karenanya yang revolusi perlu pembelajaran lebih dari si bos, sekalian sebagai shock therapy
@ telmark
kalo ngomel sendiri sih iya mas, tapi kalo marahin yang lain sepertinya nggak mungkin, lha sudah level paling bawah
@ Kang Adhi
hehehe… bener juga kang!
misuh itu bukan berati ungkapan amarah, tetapi misuh adalah suatu media untuk mempererat persaudaraan dan persahabatan (ini saya asumsikan berlaku di surabaya dan sekitarnya.. linknya mati tuh)
pa’e , panjenengan juga suka marah2 ke anak buah tak? hayooo, ngaku!
urusan marah sih nggak ada urusan hukum, kalau marahnya sambil menyerang secara pribadi itu baru masalah seperti ngomong “anjing lu” padahal kita kan bukan anjing, nah itu baru jadi masalah hukum
“Aku punya duit, berhak marah dong… situ kan di gaji olehku” kata sang Bos … hmm Indonesia, kata ulamamasih belum merdeka mas… buktine masih ada kelas-kelasan, masih ada anak2 buah …
@ danasatriya
ada benernya juga sih mas!
@ anggara
wah.. kalo marah jelas bawa penghuni kebun binatang mas
@ kurtubi
yap setuju, mungkin kemarin proklamasi jilid satu, lha mestinya ada jilid berikutnya kang!