“Lha berapa gajimu, cung!” kata Bapak saya waktu itu.
(cung, berasal dari kata kacung dalam bahasa jawa yang berarti nak!, atau anak)
“cuman UMR pak!” jawab saya.
“lha UMR itu berapa?” ternyata jawaban saya bikin Bapak semakin penasaran saja.
“Ya… 450 ribu Pak” jawab saya sambil nyruput wedang kopi Bapak.
“Hah 450 ribu? pulang pergi Gresik Surabaya?” tak lihat wajah Bapak semakin serius.
“Ah mending besok berhenti kerja aja, pijat Bapak tiap sore sepulang Bapak kerja, tak gaji 750 ribu tiap bulan” kata Bapak dengan lebih serius dan wajah yang menahan emosi, karena ndak terima anaknya yang sarjana, habis sawah 3 petak dan sapi 2 ekor cuman digaji murah.
Saya jadi mikir, kalo kerja untuk mencukupi kebutuhan hidup, bukankah 750 ribu tawaran Bapak lebih baik daripada UMR yang waktu itu 450 ribu? apa nggak lebih baik tak campakkan saja embel-embel sarjana?.
Kalo ada yang menawarkan jadi security melek malam dengan gaji 10 juta sebulan apa nggak lebih baik ditinggalkan saja gaji staff yang cuman 5 juta sebulan?.
Ps : ini semua hanya perumpaan, Gimana ya… gaji gede jadi security tapi dari sarjana IT, daripada gaji kecil tapi job keren, jadi staff IT.









Komentar Terakhir