“Rebo Wekasan, rebo sing pungkasan wulan sapar” (rabu terakhir di bulan safar, dalam penanggalan jawa,-red), ini adalah jawaban yang selalu saya dapat ketika saya nanya sama orang-orang kampung tetangga saya tentang asal mula budaya merayakan rebo wekasan ini, heran juga sudah turun-temurun tapi nggak ada yang bisa memberikan jawaban sedikit ilmiah dan barbau sejarah.
Masing-masing daerah, desa atau kelurahan mempunyai cara berbeda untuk merayakannya, salah satunya yang sudah cukup terkenal adalah ini
Beberapa dari mereka termasuk sesepuh desa memberikan jawaban, “itu adalah semacam ruwatan desa” ruwatan? kedengerannya terkesan berbau klenik dan kemenyan nan sangit ah lagi-lagi magic. karena orang-orang kampung pada bikin bucet, ambeng (baca:tumpeng) dibawah ke telaga di mantra-mantrain (dihaluskan, dibacakan do’a-do’a) terus disantap bersama. Nah dimana aku waktu itu? tentulah ada dikerumunan orang-orang dengan ikan bandeng sapit ditangan kiri, bersebelahan dengan wak ri yang asik menggerogoti opor ayam muda dengan giginya yang tinggal setengah. Katanya kesulitan ekonomi, tapi untuk merayakan acara ini, mereka bisa mati-matian menyajikan makanan yang tiap harinya mereka sendiri jarang menikmatinya.Inilah warisan budaya, tradisi yang masih dipegang erat oleh sebagian masyarakat dimana saya tinggal dengan membabi buta, tanpa tahu asal-usul dan nilai historisnya, gimana acaranya? malem rabu acara sangat berbau ruhani, tapi pagi hari hingga sore giliran bapak-bapak yang enggak malu dengan para tandak (baca:sinden) diiringi langgam jawa (uyon-uyon) memasukkan uang lembaran (baca:saweran) ke kemben bagian dalam dada mereka dalam acara ritual tanda’an huh!. Ndak lupa dengan minuman tuaknya, menyedihkan!, malam harinya tetep yang nggak pernah berubah wayang kulit khas kejawen semalam suntuk.
Gresik kota santri? prekêtêk, Nah bagaimana ditempat anda? adakah acara kayak beginian?










Ada, gak sama persis, sejenis. Bersih deso.
Kami pernah kirim surat ke kelurahan, keberatan dengan mabuk, mendem tuak, tandak nyelempit BH dan sejenisnya.
Sekarang gak mendem lagi, diisi acara keagamaan secara bergiliran. Jadi tiap agama bisa merayakannya sesuai tatacara masing-masing, tidak campur aduk. Tak kira Gresik sudah gak ada gituan lagi.
Walah masih ada toh… Kalau tuk budaya-budayaan opo masih cocok yah? BTW uyon-uyon memang nggersik banget yo Cak?
ya begitulah kang kalo tradisi yang ndak jelas asal-usulnya..
sebenernya sih tradisi itu bagus, ada nilai filosofisnya, tapi yg dilakuin orang-orang sekarang lebih banyak ke fisik-nya, bukan semangat dan filosofisnya..
kebudayaan dan tradisi macam itu awalnya bermula dari buah pemikiran yg dalam dan berat tentang kehidupan yg kemudian berbuah menjadi suatu ritual yg sebenernya mempunyai makna, cuma karena orang-orang jaman dulu ndak bisa menularkan makna filosofisnya dan cuma tata caranya, akhirnya ya seperti ini..
tradisi dan acara ndak jelas..
tp kalo menurutku, kalo selama tradisi bisa dijadikan tonotonan dan obyek wisata budaya, kenapa tidak?
tapi soal klenik dan sebagainya? ha saya ndak urusan..
Rabu pungkasan?! untung ga kenal sama budaya semacam itu. Kalo sampai kenal, halah gimana mau menggelar acara tsb? lha wong masyarakat’e ga kuat beli beras, golek pangan susahe setengah modar je. Mudah2an ga ada acara2 mubazir di tempatku.
mas peyek ikutan nyawer gak?
mendingan uangnya buat ngenet aja, mas….hahaha
@ cakmoki
gresik masih ada cak, wah perlu niru sampeyan cak, ngirim surat ke kelurahan, nanti saya siapkan konsep suratnya kalo begitu, matur sembah nuwun cakmoki.
@ Helgeduelbek
kalo bagi para orang tua kita, masih suka begituan pak, kalo yang muda-muda sudah pada nggak suka dengan uyon-uyonnya.
@ zam
boleh juga pencerahah sampeyan, sepertinya anda benar, orang dulu kurang bisa mewariskan nilai filosofisnya.
@ Sugeng Rianto
itulah mas, namanya nggak enak sama orang kampung, akhirnya dipaksakan untuk ada.
@ antobilang
nyawernya pengen mas, soalnya masuk ke dalam kemben he…he…
Waduh kok kontradiktif gitu ya mas?
Rohani vs “kemben”+tuak
bangsa kita memang bangsa yg gila klenik kok. liat aja film dan sinetron2 kita. bungkusnya aja macem2, ada yg kesan pertamanya sinetron religius, eh tetep ajaaa….klenik!! lha yo’opo coba, diapakno ngono iku? kapan majunya? halah bahasaku..kementhus!! hehehe…
oalaaah, di tempatku ga ada animisme spt itu apalagi masukin uang ke kemben depan umum, ih ga sopan banget bisa di sue… ya udahlah emang lain ladang lain budaya
@ deKing
lha..ya begitulah mas, saya sih mau ngikutin saran cakmoki, mudah-mudahan pelaksanaan ditahun-tahun mendatang ada perubahan.
@ venus
ya memang sepertinya yang berbau klenik yang laku dijual
@ Evy
Mbak evy dimana? kalo sekarang mbak evy ada di US ya jelas tho mbak…!
aku juga denger sih rebo wakasan gitu tapi ga ada ritual2 seperti itu tuh! Paling banyaknya orang2 pada ke masjid ngaji Yaasin bareng-bareng truss ada yang nyuguhin makanan…
hm…tandak…
kesenian kok kayaknya selalu beriringan dengan “sedikit” adegan mesum, ya?
kemarin waktu muter2 jokja malem2 bareng temenku yang aktor teater, dia bilang, “dunia hiburan itu identik dengan maksiat.”
dia juga cerita (mbuh bener mbuh ora) kalo sujiwo tejo, setiap ditanggap manggung, sehari sebelum pentas, di kamar hotelnya harus ada “sesajen”.
@ ..:X W O M A N:..
mending masih gitu.
@ joesatch
sesajen opo kuwi mas? phitik cemani ireng yo…
Saya msh sering dengar istilah rebo wekasan. Kl di daerah saya sih g da uyon2 segala. Malah ngadain istighosah pagi harinya diteruskan dg ceramah agama. Tp sy g pernah jg nanya apa sih rebo wekasan, hmm jd pengen nanya jg ke ibu saya ttg asal usul rebo wekasan…
iya, ayam…
ayam beserta kampusnya
gyakakakaka!
Di tempat ku ada yang merayakan ada juga yang tidak tapi rata-rata mereka hanya tau Rebo Wekasan tapi ga tau artinya tapi kalau pake acara ritul ga ada ditempat saya.
UNTUK TEMEN2 NGAK APA APA MAS BIARKAN SAJA BUDAYA ITU NANTI KAN PASTI HILANG DENGAN SENDIRINYA ASALKAN DARI PIHAK YANG BENAR SELALU BERJUANG UNTUK KEBENARAN, DAN TAK USA DILARANG BUDAYA ITU PASTILAH KALAU MAU BERJUANG YANG BENAR PASTI AKAN LEBIH LANGGENG. TKS
kalo rebo wekasan sama dengan rabu terakhir? jd,ndak ada lagi hari rabu,dong! tempatku ndak ada,mas. malah aku baru dengar.
@ Lintang
daerah mana mbak? bisa studi banding nggak?
@ joesatch
iso iso wae…he..he..h.e..
@ jokotaroeb
meneruskan tanpa tahu sejarah?
@ ALI IMRON
jaman sekarang yang benar gigit jari
@ madsyair
rabu terakhir bulan sapar, kalo menurut pendapat sampeyan itu opo ndak merubah penanggalan? wah bisa jadi perkara
Dalam kitab karya Syeikh Nawawi Banten ” Nihayatuzzain ” ada sebuah catatan kaki yang terjemahan bahasa Indonesianya begini ” Orang-orang yang memperoleh keutamman mengatakan Allah SWT menurunkan Bala ( Ujian ) dari lauhul Mahfudz ke langit dunia untuk dalam setahun pada malam Rabu terakhir bulan shafar. siapa saja yang membaca menulis tujuh ayat tentang keselamatan, di antaranya salamun qaulam min rabbirrohim ” pada sebuah bejana, kemudian dihapus dengan air lalu diminum, maka orang tersebut akan dilindungi dari bala dalam setahun ” Pendapat ini oleh sementara orang di kampung saya Batuceper Tangerang dijadikan sebagai alasan perayaan Malam Rebo Wakasan. Menurut saya pendapat itu tidak bisa dijadikan dalil. sebab yang disebut Dalil adalah Qur’an dan Sunnah…..
@ Nurkholis
wah sedikit jadi tahu sejarahnya, mulai ada titik terang nih