Terbaik

Jika kata “terbaik” adalah sekedar pengakuan tanpa berjejer panjang ujian dan pembuktian, ia terdengar seperti gombalan.

Terbaik adalah membandingkan yang satu dengan lebih dari satu yang lain, apa yang menjadi ukuran terbaik, dan setidaknya ada garis tegas yang menjadi bahan perbandingan. Jika tidak, bukankah ia hanya slogan yang menyesatkan?.

Saya tak tahu bagaimana membandingkan, jika dalam teori menjual diri ini dibenarkan, saya rasa akan menjadi salah jika sebuah kepercayaan apalagi masa depan sebuah kota dengan harapan kolektif yang begitu beragam dipercayakan kepada segelintir kelompok yang siap menjual diri, apalagi ia di kerek (baca:ditarik) ke atas hanya berdasarkan sebuah kepatuhan temporer.

Tak ada aturan yang menertibkan, karena memang belum saatnya, bukanlah sebuah pelanggaran, tapi seorang teman bilang,  “ini hanya soal moral”. Lagi-lagi dengan kata “hanya”, terkesan ringan tanpa beban, dan dibalik semua kalimat “hanya soal moral” ada sebuah harapan pemakluman disana. Dengan mengambil kesimpulan cepat, apa ini berarti yang segelintir itu amoral?, simpan saja jawaban sampeyan itu, sampai saatnya yang menentukan.

Cuaca

Tak baik mengeluh soal cuaca, Gresik yang panas dengan hujan sesekali yang belum genap penuh untuk dikatakan hujan, gerimis ricik tak merata, tak mampu membasahi rerumputan yang mengering secara menyeluruh.

Entah kapan musim itu akan berganti, semakin tahun, musim kemarau terasa jauh lebih panjang dari musim penghujan yang acapkali membawa bencana banjir bagi sebagian kota-kota besar, dan Gresik entah kenapa sebab, banjir sudah menjadi bencana tahunan yang tak kunjung terselesaikan. Lanjutkan membaca ‘Cuaca’

Angka

Sedikit saja saya mengingatnya, bisa jadi saya lupa, apa saya sudah mengingatnya dengan baik dan benar. bukan lantaran deretan angka itu mudah untuk dibuka kembali lantaran ia di arsip dengan baik, atau setidaknya dibuat menarik, sehingga membuat setiap orang yang melintas di deretan rak buku perpustakaan daerah itu melirik, meniup debu yang menumpuk diatasnya, membukanya secara cepat, dan dengan sedikit kekesalan akan mengembalikannya dengan melempar acak-acakan.

Diantara tumpukan itu, di buku hardcover yang melengkung dimana-mana itu, saya menemukan sebuah deretan kata dan angka, begini bunyi tepatnya, “Pertumbuhan ekonomi Gresik sebelum krisis ekonomi antara 1997 dan 1998 itu adalah 13%”, 13 bukanlah angka keramat ketika ia berada dalam deretan perhitungan statistik yang membuat pusing kepala, terlebih ia dikaitkan dengan sebuah parameter pertumbuhan ekonomi sebuah daerah.

Mari kita lupakan 13 persen itu, dan kita bicara setelahnya, dalam sebuah profile Gresik yang lain saya juga menemukan, bahwa pertumbuhan ekonomi kota ini hanya 3% sampai 4% saja.

Saya yang awam soal hitung-hitungan pertumbuhan ekonomi langsung menilai dengan ragu-ragu, apakah berarti selama ini pertumbuhan ekonomi daerah ini tidak lebih baik dari masa krisis kemarin?, ah embuhlah.

Iklan Diri dan Ketulusan

Apa yang menarik dari sederet peristiwa akhir-akhir ini?, apa yang menarik dari sederet pandang di perempatan dan setiap pojokan publik yang dianggap ramai akhir-akhir ini?. Tak perlu jeli dan dahi mengkerut untuk mencari-cari dan mengamatinya.

Iklan diri yang cukup besar, ekspresi datar dengan keramahan yang dipaksakan. Momen, begitu kata teman, tak perlu ditunggu, tapi momen perlu diciptakan, yang terjadi adalah ucapan dari kartu pos jaman jadul berubah jadi potret diri super gede di setiap tikungan dan pojokan jalan dengan ucapan dan momen lain yang dekat-dekatkan, beberapa buah iklan diri yang mencoba-coba muncul dari sela-sela kerumunan, diantara iklan sabun mandi dan jepitan iklan diskon besar-besaran dari sebuah mall perbelanjaan.

Ketulusan dan keikhlasan tentu adalah soal lain, ia hanya dalih dengan sederet pembenaran, dan yang benar itu adalah sejenis pengumuman pencalonan diri yang nampak di permukaan. ngêtok-ngêtoki, kebelet, atau mungkin ngidam seru kata orang nggersik. Dan akhirnya, rasa “malu” dan “sungkan”, begitu ujaran santun orang jawa telah di pinggirkan.

Dan jika mereka lupa, ini sekedar sepenggal kalimat pengingat, bukankah awal pencipataan langit dan bumi, gunung-gunung dan pepohonan serta hewan itu adalah enggan mengemban amanat?. Mungkin kita memang harus memaklumi, manusia memang suka merebut-rebut amanat, ia mengajukan diri, bahwa dirinyalah yang mampu mengemban amanat itu.

wallahu’alamu bishowab.

Current Issue

Darimana datangnya isu, sas-sus, gosip serta bisik-bisik dengan suara yang boleh dibilang tidak pelan itu?.

Segerombolan orang yang sakit hati, tidak uman jatah, serta publik diluar gerombolannya yang kecewa, karena sesungguhnya, ketertinggalan itu disamarkan, ia tak membawa kemajuan, pilihan terakhir adalah diam atau ewuh pekewuh.

Dan sekarang, dengan secuil kesuksesan yang selama ini dilambungkan untuk sebanding, ia tak hanya mencoba, tapi jelas-jelas menyodor-nyodorkan, seorang bakal, calon mendatang, yang akan merubah, dan seolah-olah akan mampu membawa semua ke arah yang lebih baik, ke arah persaingan masa depan yang tak gampang, dan bakalan itu seolah terang akan mampu membawa visi dan misi, tapi ia tak jauh beda, kacang gak ninggal lanjaran.

Jauh-jauh hari ia dipersiapkan, lebih tepatnya, ia di promosikan, lain soal jika ia memang benar-benar siap karena sebuah perjalan panjang penuh kelokan. Karenanya, apa yang imaji akan mudah dengan cepat berubah menjadi janji-janji.

Penghuni luaran tidak merem, sekalipun jenjem lan adhem-ayem, tapi label kultur realigius terkadang memabukkan, jika saya tidak boleh menyebutnya dengan kata menyesatkan, karena ia akan kehilangan objektivitasnya untuk memilih dan memihak. Bukankah statistik bukan hanya goresna serta tumpukan garis naik turun yang mereprensentasikan kenyataan?, selama ia tidak berdusta tentunya.

Untuk Grisee kemarin, Gresik hari ini dan nggersik masa depan.

Mohon Maaf Lahir Batin

Sedikit terlambat, tapi tak ada terlambat untuk memohon maaf dan ampunan atas segala kesalahan.

kura_kura_lebaran

Gresik Dalam Kertas

Berapa kali kata “Gresik” disebut?, kata?, tentu saja maksud dari kata itu adalah merujuk pada sebuah kota di pesisir Jawa timur itu.

Dalam deretan roman pak Pram, tiga kali saya menemukan nama kota itu disebut dalam lembaran terdalam, pertama tentu saja dalam Jalan Raya Pos Jalan Daendels, Kedua, dalam tetralogi buru di buku keempat Rumah kaca, dan ketiga, Gresik disebut dalam lakon klasik Arok Dedes.

Itu artinya kota ini memang mempunyai peranan besar dalam sejarah. berulang kali dalam banyak literatur disebut-sebut sebagai kota Pelabuhan, kota dagang, pusat perdagangan, kota niaga dan sederet panjang sebutan lain untuk Gresik.

Gresik memang menyejarah, seorang teman bahkan menemukan dan rela mendownload peta Gresik pada awal abad 14 dari perpustakaan Belanda, untuk kepentingan pribadi, dan saya rasa ia akan rela berbagi dengan siapa saja yang peduli, tapi seperti itulah wajah kota seperti kota-kota yang lain, ia terdiri dari sedikit wajah-wajah peduli dan lebih banyak wajah-wajah tak peduli.

Sepatutnya kita tidak hanya diwariskan Gresik sebagai kota sejarah, bukankah menyelami masa lalu akan lebih bisa terasa jika kita yang generasi kekinian bisa merasakan meskipun dalam jaman yang sudah jauh berbeda?.

Halaman Berikutnya »


Tentang Diri

Hanyalah manusia biasa yang pengen mencurahkan apa yang ada didepan mata, serta isi kepala yang mulai enggan mengingat. Media untuk mencurahkan isi otak dan curhat, silahkan tinggalkan pesan anda disini

Kunjungan

  • 61,295 Kunjungan

More

Subscribe in Bloglines

Powered by MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogger Anti Korupsi

Berdiskusilah secara dewasa...</