Jika kata “terbaik” adalah sekedar pengakuan tanpa berjejer panjang ujian dan pembuktian, ia terdengar seperti gombalan.
Terbaik adalah membandingkan yang satu dengan lebih dari satu yang lain, apa yang menjadi ukuran terbaik, dan setidaknya ada garis tegas yang menjadi bahan perbandingan. Jika tidak, bukankah ia hanya slogan yang menyesatkan?.
Saya tak tahu bagaimana membandingkan, jika dalam teori menjual diri ini dibenarkan, saya rasa akan menjadi salah jika sebuah kepercayaan apalagi masa depan sebuah kota dengan harapan kolektif yang begitu beragam dipercayakan kepada segelintir kelompok yang siap menjual diri, apalagi ia di kerek (baca:ditarik) ke atas hanya berdasarkan sebuah kepatuhan temporer.
Tak ada aturan yang menertibkan, karena memang belum saatnya, bukanlah sebuah pelanggaran, tapi seorang teman bilang, “ini hanya soal moral”. Lagi-lagi dengan kata “hanya”, terkesan ringan tanpa beban, dan dibalik semua kalimat “hanya soal moral” ada sebuah harapan pemakluman disana. Dengan mengambil kesimpulan cepat, apa ini berarti yang segelintir itu amoral?, simpan saja jawaban sampeyan itu, sampai saatnya yang menentukan.









</
Komentar Terakhir